Cahaya datang lebih dulu daripada kesadaran.
Putih.
Terlalu putih.
Seolah menekan dari segala arah tanpa memberi bayangan tempat untuk bersembunyi. Adam membuka mata perlahan, bukan karena ingin—lebih karena tubuhnya seperti didorong untuk kembali.
Napasnya terasa berat.
Bukan sesak.
Tapi seperti belum sepenuhnya miliknya.
Langit-langit di atasnya datar, dingin, dan asing. Ada suara samar—langkah kaki, gesekan roda, percakapan yang tidak utuh. Semuanya bercampur jadi satu, seperti gelombang yang datang lalu pergi tanpa sempat dipahami.
Ia mencoba mengingat.
Lampu.
Rem.
Benturan.
Lalu—gelap.
Kelopak matanya berkedip sekali lagi, lebih fokus. Rasa sakit mulai muncul perlahan, seperti sesuatu yang baru bangun setelah tertidur lama. Di bahu. Di siku. Di kepala.
“Adam?”
Suara itu menembus lebih jelas daripada yang lain.
Artika.
Adam menoleh sedikit. Gerakan kecil itu saja sudah cukup membuat tubuhnya memberi protes, tapi ia tetap melakukannya.
Ibunya duduk di samping tempat tidur.
Wajahnya tidak berantakan, tidak panik berlebihan—tapi matanya… tidak bisa berbohong. Ada cemas yang ditahan rapi, seperti selalu.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu bangun.” ucapnya pelan.
Adam mengangguk kecil.
“Iya, Mah.”
Suaranya serak, hampir tidak terdengar.
Tangan Artika langsung bergerak, menyentuh dahinya sebentar, memastikan sesuatu yang bahkan tidak perlu dikatakan.
Agung berdiri di sisi lain. Tidak banyak bergerak, tapi kehadirannya terasa kokoh. Tatapannya tajam, memperhatikan tanpa banyak kata.
“Masih pusing?” tanyanya.
Adam menarik napas.
“Sedikit…”
Agung mengangguk.
“Ngga apa-apa, sabar ya, Nak”
Jawabannya singkat, tapi cukup.
Artika menghela napas pelan, lalu merapikan selimut Adam, gerakan kecil yang terasa seperti cara untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Tadi kamu pingsan di jalan,” katanya.
Adam diam.
Ia sudah menduga.
Tapi mendengar langsung tetap terasa berbeda.
“Orang-orang yang bawa kamu ke sini,” lanjut Artika. “Untung cepat.”
Adam mengangguk lagi.
Tidak ada yang bisa ia tambahkan.
Pintu terbuka.
Tidak pelan.
Rey masuk duluan, langkahnya cepat, hampir tanpa jeda.
“ADAM!”
Suaranya langsung memenuhi ruangan.
Ia berhenti mendadak begitu melihat Adam sudah sadar.
“Lu—”Kalimatnya menggantung.
Wajahnya berubah.
Dari panik jadi lega yang tidak sepenuhnya ingin ditunjukkan.
“Lu bikin kaget aja,” gumamnya, mencoba santai.
Arga masuk di belakangnya, lebih tenang, tapi matanya langsung menyapu kondisi Adam. Ferly menyusul, membawa dua kantong plastik. Indri masuk terakhir, menutup pintu dengan hati-hati.
“Gimana?” tanya Arga singkat.