Cahaya yang masuk lewat jendela tidak lagi terasa asing. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk membuat garis-garis bayangan di lantai terlihat jelas. Suara aktivitas pagi berjalan pelan di luar—langkah perawat, suara troli, sesekali panggilan nama pasien yang terdengar dari kejauhan.
Adam sudah duduk.
Tidak sepenuhnya tegak, tapi cukup untuk tidak lagi terbaring seperti kemarin. Tubuhnya masih terasa berat, terutama di bahu dan kepala, tapi tidak mengganggu sampai membuatnya harus diam sepenuhnya.
Artika berdiri di dekat meja kecil, membuka wadah makanan dengan gerakan yang sudah terlalu sering dilakukan.
“Kamu coba makan lagi ya,” katanya pelan.
Adam mengangguk.
Tidak ada penolakan.
Ia sendiri tidak tahu harus merasa bagaimana. Lapar—tidak juga. Tapi ada dorongan untuk mencoba sesuatu yang terasa normal.
Wadah itu terbuka.
Aroma langsung keluar.
Ayam rica-rica.
Pedas.
Hangat.
Dengan bau cabai yang tajam dan daun jeruk yang segar. Minyaknya mengilap tipis di permukaan, membungkus potongan ayam yang dimasak sampai meresap.
Itu masakan rumah.
Masakan ibunya.
Adam menatapnya sebentar.
Ada sesuatu yang biasanya langsung muncul setiap kali ia mencium aroma seperti ini—antusias, atau setidaknya rasa ingin segera mencoba.
Sekarang…
ia hanya melihat.
Artika menyendok nasi ke piring kecil, lalu mengambil satu potong ayam rica-rica dan sedikit kuahnya.
“Pelan-pelan aja,” katanya.
Adam mengambil sendok.
Tangannya tidak gemetar.
Tidak ragu juga.
Ia hanya… tenang.
Sendok pertama masuk.
Nasi.
Ayam.
Sedikit kuah.
Ia mengunyah.
Pelan.
Terlalu pelan.
Artika menunggu.
Tidak bertanya.
Hanya melihat.
Adam menelan.
Lalu berhenti.
Alisnya sedikit berkerut.
Bukan karena pedas.
Bukan karena tidak enak.
Tapi karena—ada yang hilang.
Ia mencoba lagi.
Sendok kedua.
Lebih banyak kuah.
Lebih banyak ayam.
Ia mengunyah lebih lama.
Berusaha mencari sesuatu yang biasanya tidak perlu dicari.
Rasa.
Pedasnya.
Gurihnya.
Aroma yang biasanya terasa sampai ke kepala.
Tapi—tidak ada.
Atau…ada, tapi sangat tipis.
Seperti bayangan rasa.
Tidak jelas.