Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #26

#26 — Sup Ayam yang Mulai Hambar

Apa yang dibilang Ferly benar. 

Dokter mendiagnosis Hipogesia. 

Adam merasa sangat terpukul. Ia berusaha untuk tetap kuat. Artika dan Agung berusaha untuk menyembuhkan Adam—apa pun caranya. 

Uap tipis naik dari mangkuk sebelum benar-benar terlihat jelas. Tidak tebal, tidak mengepul berlebihan—hanya cukup untuk memberi tanda bahwa sesuatu di dalamnya masih hangat, masih hidup. Adam duduk di kursi makan, punggungnya tidak lagi terlalu kaku seperti beberapa hari lalu. Luka di tubuhnya mulai mengering, perban sudah dilepas dari sebagian besar bagian. Dari luar, ia terlihat pulih.

Dari dalam—tidak sesederhana itu.

Di meja, sup ayam buatan Artika tersaji dalam mangkuk besar. Warnanya jernih keemasan, potongan wortel dan kentang terlihat rapi, ayamnya dipotong tidak terlalu besar. Taburan daun bawang di atasnya masih segar, memberikan warna hijau yang kontras.

Masakan yang sama.

Yang sudah terlalu sering ia makan.

Yang seharusnya membuatnya merasa… pulang.

Artika duduk di seberangnya, memperhatikan tanpa terlihat seperti sedang memperhatikan. Tangannya sesekali merapikan sendok, menggeser piring, melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu dilakukan.

“Coba lagi ya,” katanya pelan.

Adam mengangguk.

Sendoknya masuk ke dalam mangkuk.

Ia mengambil kuah lebih dulu.

Mengangkatnya perlahan.

Uapnya menyentuh wajah.

Hangat.

Seharusnya ada aroma yang langsung terasa—kaldu yang dalam, bawang putih yang ditumis sebelumnya, sedikit merica yang memberi sensasi halus di hidung.

Adam meminum kuah itu.

Pelan.

Menahan di lidah sedikit lebih lama.

Menunggu.

Sesuatu.

Apa pun.

Tapi yang datang…hanya hangat.

Tidak lebih.

Ia menelan.

Tidak ada reaksi.

Tidak ada perubahan.

Ia mencoba lagi.

Kali ini dengan ayam.

Lebih banyak.

Lebih lama.

Tetap sama.

Seperti makan sesuatu yang hanya punya bentuk, tanpa isi.

Artika melihat perubahan kecil di wajahnya.

“Masih… hambar?” tanyanya hati-hati.

Adam tidak langsung menjawab.

Ia ingin mengatakan tidak.

Ingin membuat semuanya terasa normal.

Tapi tubuhnya tidak bisa diajak berbohong.

“Iya.”

Satu kata.

Pelan.

Tapi jelas.

Artika menunduk sebentar.

Tidak lama.

Lalu kembali menatap.

“Mungkin masih efeknya,” katanya. “Belum pulih sepenuhnya.”

Adam mengangguk.

Ia juga ingin percaya itu.

Benar-benar.

Pintu depan terbuka.

Suara langkah masuk.

Milan.

Lihat selengkapnya