Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #27

#27 — Opor Ayam Terakhir Ibu

Aroma santan biasanya datang dengan cara yang tidak pernah salah. Ia tidak keras, tidak tajam, tapi mengisi ruang perlahan—mengendap di sudut-sudut rumah, menempel di dinding, di kain, bahkan di udara yang bergerak pelan. Pagi itu, aroma itu kembali hadir.

Tidak seperti hari-hari biasa.

Lebih kuat.

Lebih dalam.

Seperti sedang mencoba mengatakan sesuatu.

Adam terbangun bukan karena suara.

Tapi karena aroma.

Ia membuka mata, masih setengah sadar. Cahaya masuk dari celah jendela, lembut, belum terlalu tinggi. Suara burung terdengar samar, bercampur dengan bunyi peralatan dapur yang beradu pelan.

Ia duduk perlahan.

Tubuhnya sudah jauh lebih ringan dibanding beberapa hari lalu. Tidak lagi terasa berat, hanya sisa-sisa nyeri yang kadang muncul kalau ia bergerak terlalu cepat.

Tapi ada satu hal yang tidak berubah.

Rasa.

Atau… ketidakadaannya.

Adam berdiri, berjalan keluar kamar.

Langkahnya pelan.

Tidak terburu.

Seperti ingin memastikan setiap detik yang dilewati tidak terlewat begitu saja.

Di dapur, Artika berdiri di depan kompor.

Punggungnya sedikit membungkuk.

Tidak terlalu terlihat kalau hanya dilihat sekilas. Tapi kalau diperhatikan lebih lama—ada yang berbeda. Gerakannya tidak secepat biasanya. Tangannya tetap terampil, tapi ada jeda-jeda kecil di antara setiap gerakan.

Panci besar di atas kompor mengeluarkan uap.

Opor ayam.

Kuah santan kekuningan dengan minyak tipis yang mengapung di permukaan. Potongan ayam terlihat empuk, menyerap bumbu. Daun salam dan serai terendam, mengeluarkan aroma yang hangat dan familiar.

Adam berhenti di ambang pintu dapur.

Melihat.

Tidak langsung masuk.

Artika menoleh.

Sedikit terkejut.

“Aa udah bangun?” tanyanya.

Adam mengangguk.

“Iya, Mah.”

Artika tersenyum.

“Pas banget. Ini sebentar lagi jadi.”

Adam melangkah masuk.

“Kenapa masak opor?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana.

Tapi jawabannya tidak langsung datang.

Artika diam sebentar.

Lalu kembali mengaduk.

“Lagi pengen aja,” katanya.

Nada suaranya ringan.

Tapi tidak sepenuhnya.

Adam tidak mengejar.

Ia berdiri di dekat meja.

Melihat setiap proses.

Artika menuangkan santan terakhir ke dalam panci. Warna kuahnya berubah sedikit lebih pucat, lebih lembut. Ia mengaduk perlahan, memastikan semua tercampur rata.

Bumbu halus yang sudah dimasak sebelumnya—bawang merah, bawang putih, kemiri, kunyit—tercium samar di udara. Tidak menyengat. Justru menenangkan.

Ia menambahkan sedikit gula.

Sedikit garam.

Lalu mencicipi.

Sebentar.

Mengangguk kecil.

Seolah semuanya sudah pas.

Adam memperhatikan.

Gerakan itu.

Sederhana.

Tapi penuh.

Seperti ada sesuatu yang ingin ia ingat.

Di meja makan, nasi sudah disiapkan. Piring-piring tersusun rapi. Sendok dan garpu diletakkan di sampingnya.

Milan keluar dari kamar dengan langkah setengah berlari.

“Hah? Opor?” katanya langsung.

Matanya berbinar.

“Serius, Mah?”

Artika tertawa kecil.

“Iya, De.”

Milan langsung duduk.

Lihat selengkapnya