Kursi itu kosong.
Bukan karena tidak ada yang duduk.
Tapi karena yang seharusnya ada di sana… tidak terlihat.
Adam berdiri di depan meja makan beberapa detik lebih lama dari biasanya. Cahaya pagi masuk dari jendela dapur, menyentuh permukaan meja, memantul di piring yang sudah disusun rapi. Semua terlihat normal—terlalu normal untuk sesuatu yang terasa sedikit bergeser.
Artika tidak di dapur.
Biasanya, di jam seperti ini, suara sendok beradu dengan panci sudah terdengar. Bau masakan sudah lebih dulu memenuhi ruang sebelum siapa pun benar-benar duduk.
Sekarang—hanya sunyi.
Adam melangkah pelan.
Melihat ke arah dapur.
Kompor mati.
Tidak ada uap.
Tidak ada suara.
Hanya peralatan yang tertata, seperti menunggu digunakan.
Milan keluar dari kamar dengan langkah setengah malas. Rambutnya masih sedikit berantakan, tas sekolah belum sepenuhnya siap.
“Aa… Mamah mana?” tanyanya sambil menguap.
Adam menggeleng kecil.
“Nggak tahu.”
Milan berhenti sebentar.
“Tumben…”
Kalimatnya menggantung.
Agung keluar dari kamar, kemejanya sudah rapi, tapi wajahnya belum sepenuhnya siap menghadapi hari.
“Udah sarapan?” tanyanya.
Adam menggeleng.
“Belum.”
Agung melihat ke arah dapur.
Kosong.
Ia tidak langsung bertanya.
Hanya berjalan masuk, membuka lemari, mengambil roti tawar.
“Sarapan ini aja, ya.” katanya.
Sederhana.
Praktis.
Tidak seperti biasanya.
Adam duduk.
Milan ikut duduk di sebelahnya.
Agung menaruh beberapa lembar roti di piring, mengambil selai, lalu meletakkannya di tengah meja.
“Mamah lagi istirahat,” katanya singkat.
Adam menoleh.
“Kenapa?”
Agung berhenti sebentar.
“Katanya lagi capek, a.”
Jawaban yang masuk akal.
Tapi terasa… tidak cukup.
Adam tidak bertanya lagi.
Milan mulai mengoleskan selai ke roti.
Gerakannya cepat.
Biasa.
Seolah ini hanya hari lain.
Adam mengambil satu lembar.
Menggigit.
Teksturnya lembut.
Sedikit kering di bagian pinggir.
Selainya manis.
Atau seharusnya manis.
Ia mengunyah.
Menunggu.
Tetap sama.
Kosong.
Ia menelan tanpa ekspresi.
Milan melirik.
“Aa… masih nggak kerasa?” tanyanya pelan.
Adam menggeleng sedikit.
“Iya.”
Milan diam.
Tidak memaksa.
Agung duduk di ujung meja.
Makan pelan.