Rumah sakit selalu punya aroma yang sulit dijelaskan.
Bukan hanya bau obat atau cairan pembersih lantai.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang dingin.
Seolah setiap dinding menyimpan kecemasan orang-orang yang pernah menunggu di sana.
Adam duduk di kursi ruang tunggu dengan tubuh sedikit membungkuk. Tangannya saling menggenggam di depan lutut. Lampu putih di lorong membuat wajah siapa pun terlihat lebih pucat dari biasanya.
Di sebelahnya, Milan tertidur sambil menyandarkan kepala ke bahunya.
Tas sekolahnya masih ada.
Belum sempat diganti.
Belum sempat pulang.
Agung berdiri tidak jauh dari pintu ruangan pemeriksaan. Dari tadi ia lebih banyak diam. Sesekali berjalan beberapa langkah, lalu berhenti lagi. Tangannya masuk ke saku celana, keluar lagi, lalu menyilang di dada.
Gelisah.
Tapi berusaha tetap terlihat tenang.
Sudah hampir dua jam sejak Artika dibawa masuk.
Awalnya hanya pusing.
Lalu sesak.
Kemudian tubuhnya tiba-tiba lemas di dapur saat sedang mencoba menyiapkan makan malam.
Milan yang pertama panik.
Adam langsung memapah ibunya ke sofa.
Agung menelepon rumah sakit dengan tangan yang terlihat tenang—meski suaranya tidak.
Sekarang mereka di sini.
Menunggu.
Dan waktu di rumah sakit selalu terasa lebih lambat dibanding tempat lain.
Langkah perawat terdengar berulang di lorong.
Suara roda ranjang sesekali lewat.
Monitor berdetak dari balik ruangan.
Pintu terbuka tutup.
Orang-orang berbicara pelan.
Tidak ada yang benar-benar tertawa.
Adam mengusap pelan kepala Milan.
Adiknya tertidur tidak nyaman. Sesekali bergerak kecil, lalu kembali diam.
“Aa…” gumamnya setengah sadar.
“Hm?”
“Mamah nggak apa-apa kan?”
Adam menatap lurus ke depan beberapa detik sebelum menjawab.
“Iya.”
Jawaban yang ingin ia percaya sendiri.
Milan kembali diam.
Agung akhirnya duduk di sebelah Adam.
Pelan.
Seperti tenaganya ikut habis.
Dokumen rumah sakit masih ada di tangannya.
“Dokternya bilang apa, Pah?” tanya Adam.
Agung mengembuskan napas pendek.
“Masih dicek.”
“Itu doang?”
Agung mengangguk kecil.
Adam menunduk.
Ia benci keadaan seperti ini.
Tidak tahu apa-apa.
Tidak bisa melakukan apa-apa.
Hanya duduk dan menunggu.
Dan menunggu adalah hal yang paling melelahkan saat yang dipertaruhkan adalah orang yang paling penting dalam hidupmu.
Suara langkah cepat terdengar dari ujung lorong.
Rey datang lebih dulu.
Masih memakai seragam sekolah lengkap, rambutnya sedikit berantakan seperti habis buru-buru.
“Gimana, Dam?” tanyanya langsung.
Adam menggeleng.
“Belum tahu.”
Tidak lama setelah itu Ferly datang bersama Arga dan Indri.
Ferly membawa plastik kecil berisi air mineral.