Lorong rumah sakit itu terlalu dingin untuk pagi yang baru saja datang. Cahaya matahari masuk tipis melalui jendela panjang di ujung koridor, memantul pucat di lantai keramik yang mengilap. Suara roda ranjang pasien sesekali lewat, disusul langkah cepat perawat dan bunyi sandal karet yang bergesekan dengan lantai. Di dekat ruang tunggu, mesin dispenser air berdengung pelan tanpa henti, seperti suara yang terus ada bahkan ketika tidak benar-benar didengar.
Adam duduk membungkuk di kursi plastik biru dengan kedua siku di lutut. Tangannya menggenggam cup kopi rumah sakit yang sejak tadi tidak disentuh. Kopi itu sudah dingin. Permukaannya diam tanpa uap.
Di sebelahnya, Milan tertidur sambil menyender di bahunya dengan posisi tidak nyaman. Mulut adiknya sedikit terbuka, wajahnya pucat karena kurang tidur. Hoodie abu-abu yang dipakai Milan masih sama seperti kemarin sore.
Agung berdiri dekat jendela lorong sejak tadi malam. Tidak banyak bicara. Sesekali hanya berjalan sebentar ke depan ruang rawat, lalu kembali lagi ke tempat yang sama seolah tidak tahu harus melakukan apa dengan tubuhnya sendiri.
Adam menatap pintu kamar rawat inap ibunya yang tertutup rapat.
Sudah dua hari Artika dirawat.
Dua hari dengan kalimat-kalimat pendek dari dokter.
Dua hari dengan jawaban “kita lihat dulu perkembangannya.”
Dua hari dengan wajah orang-orang yang berusaha terlihat tenang.
Dan Adam mulai membenci semua kalimat yang terdengar hati-hati.
Pintu ruang rawat terbuka pelan. Seorang perawat keluar sambil membawa map rekam medis. Agung langsung mendekat.
“Bu Artika baru tidur lagi, Pak,” katanya pelan. “Kalau nanti bangun, coba diajak ngobrol ringan aja.”
Agung mengangguk cepat. “Iya… iya, Mbak.”
Perawat itu pergi lagi.
Adam memperhatikan ayahnya kembali berdiri di dekat jendela. Bahunya tampak turun lebih rendah dari biasanya. Rambut di pelipisnya terlihat semakin dipenuhi uban dalam beberapa minggu terakhir.
Ia belum pernah melihat ayahnya setua ini.
“Aa…”
Suara Milan serak karena baru bangun.
Adam menoleh. “Hm?”
“Jam berapa?”
Adam melirik layar ponsel. “Belum jam sembilan.”
Milan mengusap wajahnya pelan lalu menegakkan badan. Matanya langsung menuju pintu ruang rawat.
“Mamah udah bangun?”
Adam menggeleng kecil.
Milan diam cukup lama. Kemudian lirih bertanya, “Mamah bakal pulang kan?”
Pertanyaan itu membuat dada Adam terasa berat.
Ia ingin menjawab cepat. Ingin terdengar yakin. Tapi mulutnya justru terasa kering.
“Iya,” jawabnya akhirnya pelan. “Mamah pasti pulang.”
Kebohongan paling menyakitkan sering kali terdengar paling sederhana.
Tak lama kemudian, Agung berjalan mendekat sambil membawa plastik putih dari kantin rumah sakit.
“Makan dulu,” katanya.
Tidak ada yang langsung bergerak.
Agung membuka plastik itu perlahan. Aroma nasi hangat langsung keluar bersama uap tipis. Ada lauk sederhana: telur dadar yang mulai dingin dan sedikit tumis buncis.
Adam menatap nasi putih itu cukup lama.
Beberapa bulan lalu, ia mungkin akan memperhatikan aromanya lebih dulu. Uapnya. Tekstur pulennya. Bahkan suara sendok plastik saat menyentuh wadah styrofoam.
Sekarang semuanya terasa jauh.
Ia mengambil satu sendok kecil dan memasukkannya ke mulut.
Hambar.
Tetap hambar.
Namun anehnya, yang membuat dadanya sakit bukan karena ia tidak bisa merasakan makanan itu.
Melainkan karena ia masih ingat seperti apa rasa nasi hangat buatan ibunya.
Ingatan itu belum hilang.
Dan mungkin justru itu yang paling menyiksa.
Milan makan pelan di sebelahnya. Sesekali mengelap mata diam-diam sambil pura-pura sibuk membuka sendok plastik.
Agung sendiri hampir tidak makan sama sekali.
“Pah,” kata Adam pelan, “Dimakan, Pah.”
Agung mengangguk tanpa benar-benar mendengar. “Iya.”
Tetapi tangannya tetap diam di atas meja kecil ruang tunggu.
Tak lama kemudian dokter datang bersama seorang perawat lain. Wajahnya tenang, tapi terlalu tenang.
Agung langsung berdiri.
Adam ikut bangkit.
“Dok… gimana istri saya?”
Dokter itu menarik napas pendek sebelum menjawab. “Kondisinya masih belum stabil, Pak. Setelah melihat hasil tes lanjutan, diagnosis akhirnya ada kerusakan di jaringan otak, dalam istilah medis disebut Ensefalitis. Kami usahakan semaksimal mungkin, tapi memang tubuhnya sudah sangat lemah.”
Kalimat itu terdengar seperti pintu yang perlahan mulai tertutup.
Milan menunduk.
Adam memandangi dokter itu tanpa berkedip.
“Kami sarankan keluarga lebih sering menemani pasien sekarang,” lanjut dokter pelan. “Kalau ada yang ingin disampaikan… sebaiknya jangan ditunda.”
Jangan ditunda.
Kalimat itu menancap pelan di kepala Adam.
Dokter dan perawat itu pergi meninggalkan lorong yang kembali sunyi.