Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #31

#31 — Teh Hangat Tanpa Rasa

Langit di luar rumah sakit tampak pucat seperti belum benar-benar siap berganti hari. Cahaya keabu-abuan jatuh tipis di kaca jendela lorong, memantulkan bayangan samar orang-orang yang berjalan tergesa. Dari kejauhan terdengar suara troli logam didorong melewati koridor, bunyi roda kecilnya bergetar pelan di lantai keramik. Rumah sakit tetap hidup bahkan ketika sebagian besar orang sedang kehabisan tenaga.

Adam berdiri membeku di depan ruang rawat.

Pintu kamar itu terbuka setengah. Perawat lalu-lalang dengan langkah cepat. Suara monitor yang tadi berbunyi stabil kini berubah menjadi bunyi panjang yang memekakkan dada.

Milan menangis di belakangnya.

“Ma… Mamah…”

Suara itu terdengar kecil sekali.

Agung masih berdiri di dekat ujung ranjang seperti seseorang yang terlambat memahami kenyataan. Tangannya gemetar pelan di sisi tubuhnya, tapi wajahnya kosong. Terlalu kosong.

“Pak… tolong di luar dulu.”

Seorang perawat mencoba menahan mereka dengan suara hati-hati.

Adam tidak langsung bergerak. Tangannya masih menggenggam jemari ibunya yang perlahan kehilangan tenaga. Kulit tangan itu masih hangat, tapi hangat yang mulai menjauh sedikit demi sedikit.

“Adam…”

Suara Agung terdengar serak.

Baru saat itu Adam melepaskan genggamannya perlahan.

Ia mundur satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Dunia terasa seperti kehilangan suara.

Yang tersisa hanya bunyi panjang monitor dan napas Milan yang tersengal karena menangis terlalu keras.

Pintu ruang rawat akhirnya tertutup.

Adam menatap pintu itu tanpa berkedip.

Beberapa menit lalu ibunya masih bicara.

Masih tersenyum.

Masih mengusap tangannya.

Sekarang ada jarak setipis pintu yang terasa mustahil ditembus.

Milan duduk di lantai lorong sambil menangis memeluk lututnya sendiri. Hoodie abu-abunya kusut. Rambutnya berantakan. Ia terlihat jauh lebih kecil dari biasanya.

Adam ingin menghampiri.

Ingin bilang semuanya akan baik-baik saja.

Tapi tubuhnya sendiri seperti kehilangan fungsi.

Agung perlahan duduk di kursi lorong lalu menunduk dalam-dalam. Kedua tangannya saling menggenggam kuat sampai buku-buku jarinya memutih.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, Adam melihat ayahnya terlihat benar-benar takut.

Dan itu jauh lebih menghancurkan daripada tangisan.

Beberapa saat kemudian dokter keluar dari ruangan. Wajahnya lelah.

Ia menatap Agung terlebih dahulu sebelum bicara pelan.

“Pak Agung…”

Hanya dua kata itu, dan Adam sudah tahu.

Dunia kadang berubah tanpa suara ledakan.

Tanpa musik sedih.

Tanpa hujan dramatis seperti di film.

Kadang semuanya berubah hanya lewat cara seseorang memanggil nama kita.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Kalimat berikutnya terdengar jauh.

Kabur.

Seperti datang dari lorong yang sangat panjang.

Milan langsung menangis semakin keras.

“Enggak… enggak…”

Agung menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Tubuhnya membungkuk pelan.

Dan Adam merasa sesuatu runtuh di dalam dirinya saat melihat bahu ayahnya mulai bergetar kecil.

Ayahnya menangis.

Bukan tangisan keras.

Bukan tangisan penuh suara.

Justru itu yang membuatnya terasa menyakitkan.

Adam tetap diam berdiri.

Tidak menangis.

Tidak bicara.

Tidak bergerak.

Seolah tubuhnya belum memberi izin pada kenyataan untuk masuk.

Dokter mengatakan sesuatu lagi tentang administrasi dan waktu pemindahan jenazah, tapi Adam sudah tidak benar-benar mendengar.

Yang terus terngiang di kepalanya hanya suara ibunya tadi:

“Jangan nyalahin diri sendiri…”

Kalimat terakhir yang selesai.

Sisanya tertinggal di udara.

Tidak pernah benar-benar sampai.




Rumah mereka terasa berbeda bahkan sebelum pintu dibuka.

Tidak ada aroma masakan.

Tidak ada suara sendok beradu dari dapur.

Tidak ada langkah kaki Artika yang biasanya selalu lebih dulu menyambut.

Hanya sunyi.

Sunyi yang terasa asing.

Beberapa tetangga mulai berdatangan sejak siang. Sandal memenuhi teras rumah. Suara salam dan ucapan belasungkawa datang bergantian. Ada yang membantu mengangkat kursi. Ada yang membawa air mineral. Ada yang sibuk di dapur menyiapkan teh dan makanan sederhana untuk pelayat.

Rumah kecil itu mendadak penuh orang.

Tetapi Adam justru merasa rumahnya kosong untuk pertama kali.

Ia duduk di ruang tengah sambil menatap lantai.

Orang-orang datang menghampiri.

Mengusap pundaknya.

Mengucapkan kalimat-kalimat baik.

“Sabar ya, Dam…”

Lihat selengkapnya