Rumah itu akhirnya kembali sepi.
Tidak benar-benar sepi—karena masih ada suara kipas angin tua yang berdecit pelan di ruang tengah, suara motor lewat dari jalan depan rumah, juga sesekali bunyi sendok beradu dari dapur tetangga. Tetapi setelah beberapa hari dipenuhi pelayat, doa, sandal berserakan di teras, dan orang-orang yang datang membawa ucapan belasungkawa, kesunyian rumah mereka kini terasa jauh lebih keras.
Kesunyian yang menetap.
Cahaya matahari masuk dari sela tirai ruang makan, jatuh pucat di meja kayu yang mulai dipenuhi gelas bekas air mineral dan plastik makanan sisa kiriman tetangga. Di sudut meja masih ada toples kerupuk yang belum tertutup rapat sejak kemarin. Tidak ada yang membereskannya.
Biasanya Artika akan langsung mengomel pelan kalau rumah mulai berantakan seperti ini.
Sekarang tidak ada suara siapa-siapa.
Adam berdiri cukup lama di ambang dapur.
Dapur itu masih sama. Kompor yang sedikit miring. Rak bumbu kecil dekat jendela. Lap tangan motif bunga yang tergantung di pegangan kulkas. Panci-panci yang disusun rapi berdasarkan ukuran.
Semuanya masih terasa seperti milik ibunya.
Dan justru itu yang membuatnya sulit bernapas.
Tetangga sebenarnya sudah beberapa kali menawarkan membantu membereskan kulkas dan makanan sisa, tapi Agung selalu menolak halus.
“Sudah dibantu adik saya, Intan.”
Adam masih ingat rasa opor buatan ibunya:
gurih santannya, hangat lada putihnya, sedikit manis di ujung, dan aroma bawang goreng yang selalu lebih banyak dari biasanya karena Milan suka.
Tubuhnya lupa. Tapi ingatannya tidak.
Dan itu terasa kejam.
Suara langkah kaki pelan terdengar dari arah ruang tengah.
Agung masuk ke dapur dengan wajah lelah dan kaus rumahan kusut yang sudah dipakai dua hari terakhir. Matanya sembab, tapi ia tetap berusaha terlihat biasa.
“Kamu udah makan?”
Adam menggeleng kecil.
Agung melirik mangkuk opor di meja.
“Itu ada opor ayam buatan Tante Intan, dimakan ya…”
Adam tidak menjawab.
Ayahnya berjalan pelan membuka kulkas, lalu kembali menutupnya tanpa mengambil apa pun. Seperti orang yang lupa apa tujuan awalnya masuk dapur.
Sudah beberapa hari ini Agung sering begitu.
Masuk ke satu ruangan. Diam. Lalu keluar lagi.
Seolah sebagian pikirannya masih tertinggal bersama Artika.
“Ayah udah makan?” tanya Adam pelan.
Agung mengangguk kecil terlalu cepat. “Udah.”
Bohong.
Adam tahu dari cara ayahnya menghindari tatapan mata.
Namun ia tidak membantah.
Mereka terlalu lelah untuk saling memaksa.
Sunyi kembali memenuhi dapur.
Dari luar rumah terdengar suara anak-anak pulang sekolah sambil bercanda keras di jalan kompleks. Ada bunyi pedagang bakso keliling lewat dengan dentingan mangkuk khas yang biasanya membuat Milan langsung keluar rumah.
Hari tetap berjalan seperti biasa di luar sana.
Dan Adam mulai membenci kenyataan bahwa dunia tidak berhenti meski rumahnya baru saja runtuh.
Agung akhirnya duduk di kursi makan pelan.
Tatapannya jatuh pada kursi kosong di ujung meja.
Kursi tempat Artika biasa duduk setiap pagi.
Tidak ada yang pernah menyadari sebelumnya bahwa satu kursi bisa terasa begitu penting.
“Tadi pagi…” suara Agung terdengar pelan sekali, “Ayah kebangun terus mau manggil Ibu kamu.”