Udara pagi masuk pelan dari jendela kamar Adam yang terbuka setengah. Tirai tipis bergerak perlahan tertiup angin, membiarkan cahaya pucat menyentuh meja belajar yang penuh buku gambar dan pensil warna yang sudah lama tidak disentuh. Dari luar terdengar suara ibu-ibu menyapu halaman, suara motor orang berangkat kerja, dan sesekali kicau burung dari kabel listrik depan rumah.
Pagi berjalan seperti biasa.
Dan Adam mulai membenci kata “biasa.”
Ia masih berbaring menatap langit-langit kamar sejak tadi. Selimutnya berantakan di kaki. Tenggorokannya kering, tapi tubuhnya terlalu malas bergerak.
Beberapa minggu terakhir waktu terasa aneh baginya.
Hari-hari tidak lagi punya bentuk jelas.
Pagi hanya berarti membuka mata. Siang berarti rumah mulai panas. Malam berarti suara televisi dari rumah tetangga terdengar lebih jelas.
Sisanya kosong.
Pintu kamar diketuk pelan.
“Aa…”
Suara Milan.
Adam tidak langsung menjawab.
Pintu terbuka sedikit lalu kepala Milan muncul dari celah.
“Aa belum bangun?”
Adam menoleh malas. “Udah.”
“Ya kalau udah bangun keluar.”
Adam hanya menggumam pelan.
Milan masuk sambil membawa tumpukan baju yang belum dilipat. Rambutnya masih sedikit basah seperti habis mandi buru-buru sebelum sekolah. Wajahnya terlihat lebih kurus sekarang.
Beberapa minggu kehilangan ternyata mengubah semua orang di rumah itu dengan cara masing-masing.
Milan yang biasanya cerewet sekarang lebih sering diam.
Agung menjadi lebih lambat melakukan apa pun.
Dan Adam…
Adam merasa dirinya seperti berhenti menjadi manusia yang ia kenal.
“Aa,” kata Milan pelan sambil melipat baju di kasur Adam, “hari ini masuk sekolah nggak?”
Adam memejamkan mata sebentar.
Ia sudah terlalu lama izin.
Pesan dari wali kelas, tugas dari Ferly, chat Rey yang terus memaksanya keluar rumah—semuanya mulai menumpuk di ponsel.
Tapi setiap kali membayangkan kembali ke sekolah, dadanya terasa berat.
Ia tidak tahu harus menjadi siapa di sana.
Adam yang dulu terasa seperti orang lain sekarang.
“Besok aja,” jawabnya akhirnya.
Milan menatapnya beberapa detik.
“Aa bakal terus bilang besok.”
Adam diam.
Milan melipat satu kaus perlahan lalu berkata pelan,
“Mamah nggak suka Aa ngurung diri begini.”
Kalimat itu langsung membuat dada Adam mengencang.
“Jangan bawa-bawa Mamah dulu.”
Nada suaranya lebih keras dari yang ia maksudkan.
Milan langsung terdiam.
Ruangan mendadak terasa canggung.
Adam menyesal begitu melihat wajah adiknya berubah.
Milan menunduk sambil menggenggam ujung kaus.
“Dede cuma khawatir…”
Suara itu kecil sekali.
Adam mengusap wajahnya yang kasar.
“Maaf ya, De.”
Milan mengangguk kecil tanpa menatapnya.
Tak lama kemudian terdengar suara Agung memanggil dari dapur.
“Milan! Sarapan dulu!”
“Iya!”
Milan berdiri lalu berjalan ke pintu. Namun sebelum keluar, ia sempat berhenti.
“Aa…”
“Hm?”
“Mamah juga nggak bakal suka kalau Aa nyalahin diri sendiri terus.”
Pintu kamar tertutup pelan setelah itu.
Dan Adam kembali sendirian bersama pikirannya sendiri.
Kalimat terakhir ibunya terus berputar di kepalanya seperti lagu rusak:
“Jangan nyalahin diri sendiri…”
Padahal justru itu yang paling sulit dihentikan.
Karena setiap kali lidahnya gagal merasakan makanan, Adam selalu teringat kecelakaan itu.
Motor yang meluncur terlalu cepat.
Aspal dingin.
Lampu kendaraan yang kabur.
Rumah sakit.
Obat-obatan.
Kalau saja malam itu ia lebih hati-hati.
Kalau saja—Adam menutup wajahnya frustrasi.