Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #34

#34 — Nasi Sisa, Tempe Orek, dan Kursi Kosong

Cahaya sore jatuh miring melewati jendela ruang makan, membentuk garis panjang berwarna keemasan di lantai keramik yang mulai kusam dimakan waktu. Dari luar rumah terdengar suara anak-anak bermain sepeda di gang kompleks, sesekali diselingi suara ibu-ibu memanggil anaknya mandi sebelum magrib. Aroma gorengan dari warung depan gang ikut terbawa angin tipis yang masuk melalui ventilasi dapur.

Rumah itu masih berdiri seperti biasa.

Tetapi kini semua terasa seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang.

Adam baru pulang sekolah.

Hari pertamanya kembali setelah terlalu lama menghilang terasa melelahkan dengan cara yang sulit dijelaskan. Bukan karena pelajaran. Bukan karena tugas. Tapi karena semua orang menatapnya dengan hati-hati.

Guru bicara lebih pelan. Teman-teman tidak bercanda terlalu keras di dekatnya. Bahkan beberapa orang yang biasanya tidak pernah peduli mendadak bertanya: 

“Lo gapapa?”

Dan Adam mulai sadar bahwa kehilangan bisa mengubah cara seluruh dunia memandang seseorang.

Ia melempar tas ke kursi ruang makan lalu menghembuskan napas panjang.

Dapur kosong.

Tidak ada suara wajan.

Tidak ada aroma tumisan.

Tidak ada suara Artika bertanya kenapa pulang telat.

Hanya bunyi kipas angin tua yang terus berputar lambat di sudut ruangan.

Adam membuka rice cooker.

Nasi tinggal sedikit.

Dingin.

Di kulkas hanya ada tempe orek sisa semalam dalam wadah plastik bening dan sedikit telur dadar yang mulai mengeras di pinggirnya.

Ia berdiri cukup lama di depan kulkas tanpa bergerak.

Dulu rumah mereka tidak pernah punya makanan “sekadarnya.”

Bukan karena mereka kaya.

Tapi karena Artika selalu membuat makanan terasa seperti sesuatu yang penting.

Bahkan tempe orek pun bisa terasa hangat kalau dimasak ibunya.

Ada bawang merah lebih banyak. Cabai rawit yang diiris tipis. Kecap yang karamelnya pas. Dan aroma bawang putih tumis yang memenuhi rumah sejak sore.

Sekarang semuanya terasa seperti fungsi semata: makan supaya tidak lapar.

Adam mengambil nasi dan tempe orek itu lalu memanaskannya asal di microwave.

Bunyi dengung microwave memenuhi dapur yang terlalu sunyi.

Ketika makanan itu selesai dipanaskan, ia duduk sendiri di meja makan.

Tiga kursi terisi. Satu kosong.

Dan mata Adam otomatis menuju kursi itu lagi.

Kursi yang bahkan sekarang masih sedikit ditarik keluar seperti terakhir kali dipakai.

Ia belum sanggup merapikannya.

Sendok menyentuh piring pelan.

Adam mulai makan tanpa selera.

Hambar.

Tetap tidak ada rasa.

Tetapi akhir-akhir ini yang menyiksa bukan lagi sekadar hilangnya rasa di lidah.

Melainkan rasa kehilangan yang terus muncul di setiap kebiasaan kecil.

Saat membuka kulkas. Saat mendengar suara motor berhenti di depan rumah. Saat melihat rak bumbu. Saat melihat kursi kosong itu.

Semua benda di rumah seolah menyimpan bentuk ibunya masing-masing.

Pintu depan terbuka.

Milan masuk sambil melepas sepatu dengan langkah lelah. Seragamnya sedikit kusut. Tasnya langsung dijatuhkan begitu saja dekat sofa.

“Aku capek…”

Adam melirik sebentar. “Pulang les?”

Milan mengangguk malas lalu berjalan ke dapur.

Begitu melihat meja makan, langkahnya melambat.

“Oh.”

Adam tahu apa yang dipikirkan adiknya.

Dulu setiap pulang les, meja makan hampir selalu sudah penuh makanan hangat.

Artika selalu menunggu.

Kadang sambil menonton sinetron kecil-kecilan. Kadang sambil motong buah. Kadang sambil mengomel karena Milan sering pulang terlalu malam.

Sekarang meja makan hanya berisi nasi sisa dan tempe orek dingin.

Lihat selengkapnya