Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #35

#35 — Permen Stroberi yang Hambar

Cahaya matahari jatuh lembut di genteng rumah ketika Adam duduk sendirian di tempat favoritnya sejak kecil. Udara pagi masih menyisakan dingin tipis semalam, bercampur aroma tanah lembap dari halaman belakang yang baru disiram tetangga sebelah. Dari kejauhan terdengar suara pedagang sayur menawarkan dagangan dengan nada panjang yang familiar, diselingi suara burung gereja yang hinggap di kabel listrik depan rumah.

Dulu tempat ini selalu terasa aman bagi Adam.

Genteng rumah mereka tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuat dunia di bawah terasa lebih jauh. Dari sini ia bisa melihat pohon jambu air yang cabangnya hampir menyentuh atap, melihat ibu-ibu menyapu halaman, atau sekadar memandangi langit sambil mendengar suara wajan dari dapur.

Sekarang suara dapur itu sudah tidak ada.

Dan genteng ini mendadak terasa jauh lebih sepi.

Adam duduk sambil memeluk lutut. Buku gambar terbuka di sampingnya, tetapi halaman itu masih kosong sejak setengah jam lalu. Pensil di tangannya hanya diputar-putar tanpa tujuan.

Ia sudah mencoba menggambar beberapa kali setelah ibunya meninggal.

Namun setiap garis terasa mati.

Seperti tangannya bergerak tanpa benar-benar ingin menciptakan sesuatu.

Suara jendela kamar terbuka dari bawah membuat Adam menoleh.

Milan muncul sambil menyipit karena silau matahari.

“Aa di situ lagi.”

“Iya, De.”

Adam mengangguk kecil.

Milan menghela napas lalu naik perlahan lewat tangga kecil dekat balkon. Gerakannya masih canggung karena Agung sebenarnya melarang mereka naik ke atap sejak Adam kecelakaan.

Tetapi setelah semuanya terjadi, tidak ada lagi yang benar-benar punya tenaga untuk melarang banyak hal.

Milan duduk di sebelah Adam sambil membawa plastik kecil dari minimarket.

“Aku beli sesuatu.”

“Hm?”

Milan mengeluarkan sebungkus permen stroberi warna merah muda dari kantongnya lalu mengangkatnya dengan wajah sok misterius.

Adam melirik malas. “Apaan.”

“Eksperimen.”

Adam hampir tersenyum tipis.

Milan membuka bungkus permen itu pelan.

“Aku baca di internet,” katanya serius sekali, “orang yang gangguan rasa kadang bisa mulai ngerasain dari makanan yang rasanya kuat.”

Adam menatap adiknya beberapa detik.

“Internet juga bilang kalau minum air lemon tiap pagi bisa bikin tinggi.”

“Itu beda.”

Adam tertawa kecil pelan lewat hidung.

Suara itu singkat sekali, tapi cukup membuat Milan terlihat sedikit lega.

“Nih coba.”

Milan menyodorkan satu permen stroberi.

Warna merah mudanya mencolok di telapak tangan Adam.

Ia memandanginya sebentar sebelum akhirnya memasukkan permen itu ke mulut.

Permen keras itu langsung menyentuh lidahnya.

Manis. Asam. Buah sintetis khas permen murah.

Tubuhnya tahu seharusnya rasa itu ada.

Tetapi tetap kosong.

Adam mengisap permen itu perlahan beberapa detik.

Lalu menggeleng kecil.

“Nggak ada.”

Ekspresi Milan langsung turun sedikit.

“Masa sih?”

Adam mengangguk.

Milan mengambil satu permen juga lalu memasukkannya ke mulut sendiri.

“Masa ini manis banget loh.”

Adam tidak menjawab.

Ia sudah terlalu lelah berharap setiap kali mencoba sesuatu baru.

Awalnya ia masih semangat mencari rasa: makanan pedas, kopi pahit, jeruk nipis, cokelat, bahkan sambal langsung.

Tetapi hasilnya selalu sama.

Kosong.

Dan kekosongan yang diulang terus-menerus perlahan berubah menjadi keputusasaan.

Milan memperhatikan wajah kakaknya diam-diam.

Lihat selengkapnya