Aroma jeruk nipis memenuhi dapur sejak pagi.
Asam segarnya bercampur dengan bau bawang putih yang baru diiris dan suara ulekan cabai dari cobek batu. Cahaya matahari masuk dari jendela kecil dekat wastafel, memantul di permukaan panci dan gelas-gelas yang belum sempat disusun rapi. Di luar rumah terdengar suara tukang servis AC menawarkan jasa lewat pengeras suara motor yang sember, lalu perlahan menjauh ke ujung gang.
Adam baru keluar kamar ketika mendengar suara dapur terlalu ramai untuk ukuran rumah mereka sekarang.
Ia berhenti di ambang pintu sambil mengernyit kecil.
Agung sedang memasak.
Atau lebih tepatnya: sedang mencoba.
Ayahnya berdiri di depan kompor dengan celemek lama motif kotak-kotak yang dulu sering dipakai Artika kalau memasak makanan berminyak. Celemek itu terlihat sedikit kekecilan di tubuh Agung.
Pemandangan itu terasa aneh.
Bukan lucu. Bukan canggung.
Lebih seperti sesuatu yang seharusnya tidak perlu terjadi kalau keadaan mereka masih baik-baik saja.
“Ayah ngapain?” tanya Adam pelan.
Agung menoleh cepat seperti ketahuan melakukan sesuatu diam-diam.
“Masak.”
Adam melirik wajan besar di atas kompor. Potongan ayam terlihat sedang dimasak bersama cabai merah dan daun jeruk. Uap pedas naik memenuhi dapur sampai membuat mata sedikit perih.
“Ayam rica-rica?”
Agung mengangguk sambil mengaduk pelan.
“Ibu kamu dulu pernah ngajarin.”
Kalimat itu membuat Adam diam beberapa detik.
Ia memperhatikan ayahnya lebih lama.
Gerakan Agung masih kaku saat memasak. Cara memegang spatula, cara menuang bumbu, semuanya terlihat seperti orang yang sedang menghafal langkah demi langkah agar tidak salah.
Namun ada keseriusan di sana.
Keseriusan seseorang yang sedang mencoba mempertahankan sesuatu.
“Ayah nyari resep dari mana?” tanya Adam akhirnya.
Agung menunjuk layar ponsel yang disandarkan dekat tempat bumbu.
“Video internet.”
Adam hampir tersenyum tipis.
Di layar itu terdengar suara seorang ibu-ibu menjelaskan:
“Kalau mau lebih wangi, daun jeruknya diremas dulu ya, Bun.”
Agung langsung mencoba mengikuti.
Adam memandangi dapur mereka perlahan.
Dulu tempat ini selalu terasa dikuasai ibunya.
Rapi.
Hangat.
Penuh suara kecil.
Sekarang dapur terasa seperti tempat yang sedang dipelajari ulang oleh orang-orang yang ditinggalkan.
Milan masuk sambil masih mengucek mata.
“Astaga pedes banget baunya…”
Agung langsung menoleh bangga sedikit.
“Ayam rica-rica.”
Milan membelalakkan mata. “Papah?”
“Emang kenapa?”
“Nggak kenapa… cuma takut gosong aja.”
“Heh.”
Untuk pertama kali setelah sekian lama, ada suasana kecil yang terasa mendekati normal.
Meskipun rapuh.
Milan membuka tutup panci lain lalu langsung berseru kecil.
“Wih ada sayur juga?”
“Biar nggak cuma ayam.”
Adam duduk di kursi dapur sambil memperhatikan mereka.
Ia sadar Agung sedang berusaha keras.
Bukan cuma memasak.
Tetapi menjaga rumah itu tetap hidup.
Dan entah kenapa, justru itu yang membuat dada Adam terasa berat.
Karena ia sendiri belum melakukan banyak hal selain tenggelam di dalam dirinya sendiri.
“Dam.”
Adam menoleh.
“Coba kuahnya.”
Agung menyodorkan sendok kecil berisi kuah rica-rica merah mengilap.
Adam diam beberapa detik sebelum menerimanya.
Ia meniup sedikit lalu mencicipi.
Cabai.
Jeruk nipis.