Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #37

#37 — Catatan Rasa dan Kopi Pahit

Hujan turun tipis sejak siang, membasahi genteng rumah dan meninggalkan suara rintik kecil yang terus terdengar di sela-sela keheningan. Udara di rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma tanah basah masuk dari jendela ruang tamu yang terbuka sedikit, bercampur samar dengan bau kayu lemari dan sisa kopi yang belum dicuci dari pagi tadi.

Adam duduk di meja makan dengan buku gambar terbuka di depannya.

Namun seperti beberapa minggu terakhir, halaman itu tetap kosong.

Pensil di tangannya berhenti tepat di udara tanpa benar-benar menyentuh kertas. Pikirannya penuh, tetapi anehnya justru tidak ada satu pun yang bisa keluar.

Kadang kehilangan memang membuat seseorang tidak hanya mati rasa di lidah.

Tapi juga di dalam kepala.

Suara pagar depan dibuka membuat Adam mengangkat wajah sedikit.

Tak lama kemudian terdengar langkah cepat memasuki teras disusul suara Rey yang khas.

“WOI! Hujan begini malah melamun.”

Adam menghela napas kecil.

Rey masuk sambil mengibas-ngibaskan jaketnya yang basah sebagian. Di belakangnya ada Ferly membawa kantong plastik makanan, dan Arga yang seperti biasa berjalan paling belakang dengan tangan masuk ke saku hoodie.

“Assalamualaikum,” ujar Ferly sambil menaruh sandal rapi.

“Waalaikumsalam,” jawab Adam dari dapur.

Milan langsung muncul dari kamar dengan wajah lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir.

“Bawa makanan?”

“Dasar,” gumam Arga kecil.

Ferly mengangkat kantong plastik. “Nyokap Rey nitip pastel sama risoles.”

“Dan gue nitip badan gue buat makan gratis,” tambah Rey.

Untuk sesaat rumah itu kembali terasa seperti dulu.

Berisik. Penuh suara. Penuh orang.

Adam baru sadar betapa ia merindukan itu.

Rey langsung duduk sembarangan di kursi ruang makan sambil melihat buku kosong Adam.

“Lu ngapain?”

“Gambar.”

“Kertas kosong gitu?”

Adam malas menjawab.

Ferly duduk di samping Adam lalu memperhatikan wajahnya beberapa detik.

“Lu tidur nggak semalem?”

Adam mengangkat bahu.

“Sedikit.”

“Keliatan.”

Rey langsung menyahut, “Dia sekarang kayak karakter utama film indie yang hidupnya berantakan.”

“Mulut lu nggak bisa normal dikit?” gumam Arga.

“Gue berusaha nyairin suasana.”

Milan malah tertawa kecil.

Dan Adam sadar sudah lama ia tidak mendengar suara tawa di rumah itu.

Ferly mulai membuka plastik makanan satu per satu. Aroma gorengan hangat langsung memenuhi meja makan.

“Eh,” katanya sambil melihat sekitar, “Om mana?”

“Di belakang,” jawab Adam.

Tak lama kemudian Agung masuk sambil membawa gelas kosong.

“Wah rame.”

Rey langsung berdiri sopan sedikit. “Om.”

Agung tersenyum tipis. “Tumben sopan.”

“Lagi sedih soalnya.”

“Bohong,” sahut Arga datar.

Suasana kecil itu membuat Agung tertawa pelan. Tawa yang masih terdengar lelah, tapi setidaknya nyata.

Adam memperhatikan semuanya diam-diam.

Ia mulai sadar bahwa rumah ini memang terasa lebih hidup setiap teman-temannya datang.

Mereka tidak pernah memaksa Adam untuk cepat sembuh.

Tidak pernah bilang “harus kuat” terus-menerus. Mereka hanya datang. 

Duduk.

Bercanda.

Makan.

Lihat selengkapnya