Udara pagi terasa lebih hangat dari beberapa hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk lewat sela daun pohon jambu di samping rumah, membentuk bayangan bergerak di lantai ruang tamu. Dari dapur terdengar suara panci beradu pelan dan air mendidih di atas kompor. Aroma bawang merah goreng samar memenuhi rumah, tipis tetapi cukup untuk membuat suasana terasa hidup.
Adam baru keluar kamar ketika mendengar suara perempuan tertawa kecil di dapur.
Langkahnya langsung melambat.
Sudah lama rumah itu tidak punya suara seperti itu.
Ia berdiri di ambang ruang makan dan melihat sosok Tante Intan sedang sibuk membuka beberapa plastik belanja di meja dapur. Rambutnya digulung seadanya, lengan bajunya dilipat sampai siku, persis seperti Artika dulu kalau mulai memasak dalam jumlah banyak.
Begitu melihat Adam, Tante Intan tersenyum hangat.
“Nah. Yang ditunggu bangun juga.”
Adam sedikit terdiam sebelum akhirnya mendekat.
“Kapan datang, Tante?”
“Dari pagi.” Tante Intan melirik jam dinding. “Tapi, nggak liat Ayah kalian berangkat kerja.”
Milan muncul dari belakang sambil membawa cobek batu yang hampir jatuh karena berat.
“Tante bawa banyak banget.”
“Ya masa datang cuma bawa badan.”
Meja dapur penuh bahan makanan: kacang panjang, kol, terong, labu siam, daun kemangi, cabai rawit, oncom, dan beberapa bumbu dapur dalam plastik kecil.
Adam memperhatikan semuanya diam-diam.
Dulu setiap Tante Intan datang, dapur rumah mereka selalu berubah ramai.
Artika biasanya langsung terlihat lebih santai kalau adiknya datang. Mereka bisa mengobrol sambil memasak selama berjam-jam tanpa bosan.
Sekarang hanya tinggal gema kebiasaan itu.
Tante Intan mulai mencuci sayuran sambil berkata santai,
“Tante mau bikin karedok sama sayur lodeh.”
Milan langsung bersorak kecil. “YES.”
“Kamu doang yang semangat.”
“Ya enak tau.”
Tante Intan melirik Adam.
“Kamu bantu sini.”
Adam mengernyit kecil. “Aku?”
“Iya. Emang tante nyuruh tetangga?”
Milan cekikikan kecil.
Adam sebenarnya ingin menolak.
Belakangan dapur terasa terlalu penuh kenangan untuk ia hadapi lama-lama. Setiap aroma, setiap bunyi pisau di talenan, selalu membuat bayangan ibunya muncul terlalu jelas.
Namun entah kenapa ia tidak tega menolak Tante Intan.
Akhirnya ia duduk di kursi dapur sambil menerima sebaskom kacang panjang.
“Potong kecil-kecil.”
Adam mulai memotong perlahan.
Suara pisau menyentuh talenan memenuhi dapur bersama suara minyak yang mulai panas di wajan.
Tante Intan bergerak cepat dan terbiasa. Tangannya hafal semua urutan tanpa perlu berpikir: mengiris bawang, mengulek cabai, mencicip kuah, mengaduk santan.
Melihatnya terasa aneh bagi Adam.
Karena untuk sesaat dapur itu terlihat hidup seperti dulu lagi.
“Ayah udah berangkat kerja?” tanya Tante Intan.
“Iya,” jawab Milan.
“Tadi berangkat pagi banget.”
Tante Intan mengangguk pelan lalu melirik Adam sebentar.
“Kamu gimana sekarang?”
Adam tahu pertanyaan itu bukan soal sekolah.
“Biasa.”
“Kalau biasa mah nggak mungkin muka kamu kayak orang abis ditinggal konser gratis.”
Adam terkekeh kecil tanpa sadar.
Tante Intan tersenyum tipis melihat reaksinya.
“Ada perkembangan rasa?”
Adam menggeleng.
Tangan Tante Intan berhenti sebentar saat sedang mengulek bumbu.
Namun ia tidak menunjukkan ekspresi kasihan berlebihan seperti kebanyakan orang.
“Masih sering nyoba?”