Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #39

#39 — Rendang yang Gagal Lagi

Suara kipas angin tua berputar pelan di sudut dapur, bercampur dengan bunyi minyak yang mendesis kecil dari wajan. Cahaya dari jendela samping jatuh miring ke meja makan, membentuk garis hangat di atas toples bawang goreng dan tumpukan piring yang belum dirapikan sempurna. Udara rumah terasa lembap setelah hujan singkat tadi. Aroma santan, serai, dan daun jeruk memenuhi dapur dengan pekat—aroma yang dulu selalu membuat Adam lapar bahkan sebelum masakan matang.

Sekarang aroma itu hanya lewat begitu saja.

Adam berdiri cukup lama di depan kompor sambil memegang spatula kayu. Di dalam wajan besar, potongan daging rendang perlahan menghitam kecokelatan bersama bumbu yang mulai mengering. Santannya pecah sedikit di pinggir. Minyak merah naik ke permukaan.

Secara visual, masakan itu terlihat bagus.

Bahkan terlalu bagus untuk seseorang yang baru beberapa kali mencoba memasak serius.

Namun justru itu yang membuat dada Adam terasa sesak.

Karena ia tidak tahu rasanya.

Ia mengaduk perlahan, lalu menatap catatan lusuh di sebelah kompor. Tulisan tangan Tante Intan memenuhi halaman kecil itu.

“Tumis bumbu sampai benar-benar matang. Jangan buru-buru masukin santan.”

“Kalau rendang mulai mengeluarkan minyak, kecilkan api.”

“Rendang bukan soal cepat matang. Dia harus sabar.”

Kalimat terakhir dicoret dua kali oleh Tante Intan, seolah sengaja ditekankan.

Adam membaca itu lagi.

Lalu lagi.

Tetap saja kepalanya penuh keraguan.

Ia mengambil sendok kecil, meniup sedikit kuah kental rendang, lalu mencicipinya.

Kosong.

Tidak ada gurih.

Tidak ada pedas.

Tidak ada rasa rempah yang biasanya memenuhi mulut dan hidung.

Hanya hangat.

Dan kehampaan yang mulai membuatnya lelah.

Adam menutup mata sebentar sambil menahan napas.

Sudah berapa kali ia mencoba?

Karedok.

Sayur lodeh.

Sup ayam.

Mie goreng.

Semuanya berakhir sama.

Orang lain bilang rasanya enak.

Tapi ia sendiri tidak tahu.

Dan hari itu, untuk pertama kalinya sejak mulai belajar menerima hipogesia, Adam merasa marah lagi.

Bukan marah besar yang meledak.

Tapi marah yang diam-diam menumpuk di dada.

Marah karena tubuhnya sendiri terasa asing.

Pintu dapur terbuka pelan.

Milan masuk sambil membawa gelas air dingin. Rambutnya masih sedikit basah seperti habis mandi sore. Ia berhenti saat melihat Adam berdiri diam di depan kompor.

“Udah jadi?”

Adam mengangguk pendek.

“Coba dong,” katanya sambil mendekat.

Adam menyerahkan sendok tanpa bicara.

Milan meniup rendangnya pelan lalu menggigit sedikit dagingnya. Wajahnya langsung berubah serius karena kepanasan.

“Hahh… panas…”

Adam menunggu.

Milan mengunyah perlahan.

“Enak.”

Jawaban itu malah membuat Adam menatap kosong ke arah wajan.

“Enak doang?”

“Iya…”

“Kurang apa?”

Milan bingung. “Aku nggak tahu…”

Adam tertawa kecil.

Tapi tawanya terdengar lelah.

“Masalahnya aku nggak tahu juga.”

Milan terdiam.

Adam mengambil piring lalu memindahkan rendang ke sana dengan gerakan cepat. Sedikit terlalu cepat. Sendok logam beradu keras dengan piring.

“Aku capek,” gumamnya pelan.

Milan langsung menatap kakaknya.

Adam jarang bicara seperti itu.

“Aku capek pura-pura ngerti rasa makanan.”

Suara kipas angin terdengar makin jelas di dapur yang mendadak sunyi.

Adam menunduk sambil membersihkan pinggir piring dengan tisu.

Gerakannya rapi.

Terlalu rapi.

Seperti orang yang berusaha mengendalikan sesuatu supaya tidak berantakan.

“Semua orang bilang ini enak. Tante Intan bilang kemarin lodehku udah mirip Mama. Ayah bilang supku bikin rumah kayak dulu lagi.” Adam menarik napas pelan. “Tapi aku sendiri nggak ngerti.”

Milan menggenggam gelasnya erat.

Lihat selengkapnya