Aroma bawang merah goreng memenuhi dapur sejak tadi. Tipis, hangat, bercampur dengan wangi santan yang perlahan mendidih di atas kompor kecil. Cahaya dari luar jendela jatuh pucat ke meja makan, memantul di permukaan mangkuk stainless dan gelas teh yang mulai kehilangan uapnya. Dari gang depan rumah terdengar suara ibu-ibu berbincang sambil menyapu halaman dan suara motor yang sesekali lewat pelan.
Adam duduk di lantai dapur sambil menyandarkan punggung ke lemari bawah. Di pangkuannya ada buku gambar yang sudah penuh coretan kasar. Pensil mekaniknya bergerak pelan membuat sketsa mangkuk opor ayam.
Bukan untuk tugas sekolah.
Bukan juga untuk siapa-siapa.
Ia hanya ingin menggambar sesuatu yang familiar.
Sesuatu yang dulu selalu ada di rumah.
Beberapa helai rambut jatuh ke dahinya saat ia menunduk lebih dekat ke kertas. Tangannya bergerak otomatis membuat detail minyak tipis di permukaan kuah, potongan ayam, taburan bawang goreng, dan uap yang naik samar dari mangkuk.
Adam berhenti sebentar.
Lalu menatap gambarnya lama.
Aneh.
Ia masih bisa mengingat bentuk makanan dengan jelas.
Masih ingat warnanya.
Masih ingat teksturnya.
Tapi rasa di lidahnya seperti kenangan yang dipotong paksa.
Pintu pagar depan berbunyi kecil.
Tak lama kemudian terdengar suara sandal memasuki teras.
“Assalamualaikum…”
Suara Tante Intan.
Adam langsung menoleh sedikit.
“Walaikumsalam.”
Tante Intan masuk sambil membawa tas kain besar dan beberapa plastik belanja. Ada sayur, santan, dan ayam yang masih dibungkus koran tipis.
“Kamu nggak sekolah?” tanyanya sambil membuka sandal.
“Masuk siang nanti.”
“Oh.”
Tante Intan berjalan ke dapur lalu berhenti saat melihat sketsa di tangan Adam.
“Itu opor?”
Adam mengangguk pelan.
“Bagus.”
Adam tersenyum kecil tipis. “Cuma gambar.”
“Masakan juga awalnya cuma bayangan di kepala.”
Tante Intan mulai mengeluarkan bahan dari tas. Gerakannya tenang dan terbiasa, mirip Artika dulu. Cara ia melipat plastik, memisahkan bumbu, sampai meletakkan ayam di wastafel membuat dapur mendadak terasa seperti dipenuhi masa lalu.
Adam diam memperhatikan.
Dan seperti biasa, dadanya kembali terasa sempit.
Tante Intan menyadari itu, tapi tidak langsung membahasnya.
Ia mencuci ayam sambil berkata santai, “Milan mana?”
“Masih tidur.”
“Papah kamu?”
“Berangkat kerja.”
Suara air keran mengalir memenuhi dapur beberapa detik.
“Masih kepikiran rendang kemarin?” tanya Tante Intan pelan tanpa menoleh.
Adam tertawa kecil hambar.
“Kelihatan banget ya?”
“Kamu mirip ibu kamu kalau lagi nyembunyiin kesel.”
Adam menunduk lagi ke buku gambarnya.
“Aku cuma ngerasa… percuma.”
Tangan Tante Intan berhenti sebentar.
“Karena?”
Adam menarik napas pelan.
“Aku bikin makanan yang katanya enak, tapi aku sendiri nggak bisa ngerasain.”
Ia menatap ujung pensilnya.