Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #41

#41 — Gigitan Soto Ayam yang Nyaris Terasa

Uap tipis naik dari mangkuk soto ayam di atas meja makan. Kuahnya bening kekuningan, dipenuhi irisan kol, bihun, suwiran ayam, dan daun seledri yang baru dipotong. Aroma bawang putih goreng bercampur jeruk nipis memenuhi ruang makan kecil itu dengan hangat yang pelan-pelan menyusup ke sudut rumah. Dari luar terdengar suara kendaraan pagi yang mulai ramai di jalan depan gang, sesekali diselingi bunyi burung gereja yang hinggap di kabel listrik.

Adam duduk sambil menopang dagu dengan satu tangan.

Matanya memandang mangkuk itu cukup lama.

Bukan karena lapar.

Tapi karena akhir-akhir ini ia mulai mencoba melihat makanan dengan cara berbeda.

Tidak lagi sebagai sesuatu yang harus “mengembalikan” dirinya.

Melainkan sesuatu yang tetap bisa ia datangi meski tidak utuh.

Di depannya, Milan sedang sibuk mengaduk sambal ke kuah soto sampai warnanya berubah sedikit merah.

“Aa nggak pakai sambal?” tanya Milan.

Adam menggeleng kecil.

“Takut magnya kambuh lagi?” lanjut Milan otomatis.

Adam terkekeh pelan.

“Kamu sekarang cerewet banget.”

“Kan harus ada yang jagain.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Adam diam beberapa detik.

Dulu kalimat seperti itu selalu datang dari Artika.

Sekarang Milan mengucapkannya tanpa sadar.

Dan itu membuat Adam semakin sadar bahwa rumah ini memang berubah.

Tapi bukan berarti berhenti hidup.

Pintu depan terbuka pelan.

Agung masuk sambil membawa plastik kecil dari luar. Aroma kerupuk baru langsung menyebar begitu plastik itu diletakkan di meja.

“Warung depan baru goreng,” katanya singkat.

Milan langsung tersenyum lebar.

“Wahh…”

Agung duduk pelan lalu membuka kancing lengan kemejanya sedikit. Wajahnya masih terlihat lelah, tapi akhir-akhir ini sorot matanya tidak setenggelam dulu. Ada kelelahan yang mulai belajar berdamai dengan kehilangan.

“Masak sendiri?” tanyanya ke Adam.

Adam mengangguk kecil.

“Soto ayam?”

“Iya.”

Agung mengambil mangkuk lalu mulai menuang kuah.

Tidak banyak percakapan setelah itu. Hanya suara sendok, kuah yang bergoyang pelan, dan kerupuk yang diremukkan Milan terlalu keras sampai serpihannya berjatuhan ke meja.

“Eh…”

“Maaf.”

Adam tersenyum kecil sambil membersihkan meja dengan tangannya.

Momen seperti itu terasa sederhana sekali.

Namun justru kesederhanaan itulah yang dulu paling sering luput ia sadari.

Dulu Adam selalu berpikir kebahagiaan harus besar supaya terasa penting.

Sekarang ia mulai tahu… ternyata suara kerupuk patah di meja makan pun bisa terasa menenangkan kalau dilakukan bersama orang rumah.

Adam mengambil jeruk nipis lalu memerasnya perlahan ke kuah soto. Aroma segarnya langsung naik tipis ke udara.

Ia mengaduk pelan.

Lalu mengambil satu sendok pertama.

Hangat.

Tetap lebih banyak hangat daripada rasa.

Namun sekarang Adam tidak lagi langsung kecewa tiap kali lidahnya gagal menangkap sesuatu.

Ia belajar memperhatikan hal lain.

Tekstur bihun yang licin.

Ayam yang lembut.

Uap panas yang menyentuh wajah.

Dan entah sejak kapan, itu mulai cukup membantunya bertahan.

Milan makan cepat seperti biasa sampai pipinya menggembung penuh.

“Pelan-pelan,” tegur Agung.

“Nanti keburu dingin.”

Adam terkekeh kecil sambil menggeleng.

Lalu ia mengambil satu suapan lagi.

Kuah soto masuk perlahan ke mulutnya.

Lihat selengkapnya