Dua tahun berlalu. Adam sudah bekerja sebagai storyboard artist. Milan masuk SMP.
Langit di atas rumah tampak pucat keabu-abuan sejak tadi. Cahaya matahari tertahan awan tipis, membuat seluruh gang terlihat lebih redup dari biasanya. Udara lembap menempel di dinding rumah dan lantai teras yang belum sepenuhnya kering setelah hujan dini hari. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak pulang sekolah bercampur bunyi klakson motor yang sesekali memantul di ujung jalan sempit.
Di meja ruang tengah, beberapa kertas gambar berserakan tidak beraturan.
Pensil warna.
Spidol hitam.
Penghapus kecil yang mulai habis.
Adam duduk membungkuk di lantai dengan satu kaki ditekuk, fokus pada layar laptop tua di depannya. Di layar itu ada storyboard kasar untuk proyek kecil yang baru ia ambil beberapa minggu terakhir—gambar demi gambar tentang suasana dapur, meja makan, dan tangan seseorang yang sedang memasak.
Tidak ada dialog.
Hanya gestur.
Uap masakan.
Dan ekspresi kehilangan yang tidak diucapkan.
Adam menggambar pelan sambil sesekali memijat tengkuknya sendiri. Rambutnya mulai lebih panjang dibanding dulu, sedikit menutupi mata saat ia menunduk terlalu lama.
Dari dapur terdengar suara panci beradu kecil.
Milan sedang membuat mi rebus untuk dirinya sendiri.
“Awas kebanyakan air!” teriak Adam tanpa menoleh.
“Dede tahu!”
“Yang kemarin kayak bubur.”
“Itu eksperimen!”
Adam tertawa kecil pelan.
Suara-suara seperti itu sekarang mulai terasa normal lagi di rumah mereka.
Tidak sepenuhnya pulih.
Tidak sepenuhnya bahagia.
Tapi hidup perlahan bergerak.
Dan mereka mulai belajar mengikuti ritmenya.
Adam kembali fokus ke layar. Ia menggambar satu adegan: seorang ibu meletakkan semangkuk soto di meja makan sementara anaknya hanya diam memandangi makanan itu.
Tangannya mendadak berhenti.
Karena tanpa sadar… wajah ibu di gambar itu mulai mirip Artika.
Adam langsung menarik napas pelan.
Dadanya terasa penuh lagi.
Sudah lebih baik, pikirnya.
Harusnya sudah lebih baik.
Tapi kehilangan ternyata tidak berjalan lurus.
Kadang terasa ringan beberapa hari.
Lalu tiba-tiba datang lagi hanya karena hal kecil.
Seperti aroma bawang goreng.
Atau suara sendok menyentuh mangkuk.
Atau gambar tangan seseorang yang sedang memasak.
Pintu rumah diketuk dua kali.
“Masuk aja!” teriak Milan dari dapur.
Tak lama kemudian Rey muncul sambil membawa kantong plastik besar berisi jajanan minimarket. Di belakangnya ada Ferly dan Arga.
“Wih, lengkap,” gumam Adam sambil menyandarkan tubuh ke sofa.
“Tumben rumah nggak sepi amat,” kata Rey sambil melepas sandal.
Ferly langsung duduk selonjoran di lantai tanpa izin seperti biasa.
“Laper gue.”
“Kaget gue,” jawab Adam datar. “Biasanya lu fotosintesis.”
“Lucu banget.”
Arga tertawa kecil sambil membantu Milan mengambil mangkuk dari dapur.
Suasana rumah mendadak lebih ramai. Bunyi plastik cemilan dibuka, suara Rey yang ngomel karena teh di kulkas tinggal sedikit, dan Ferly yang sibuk mengomentari gambar-gambar Adam memenuhi ruang tengah yang sebelumnya terlalu sunyi.
“Ini buat kerjaan?” tanya Arga sambil melihat storyboard di laptop.
Adam mengangguk.
“Bagus,” kata Arga tulus.
Rey ikut melirik lalu bersiul kecil.
“Buset… udah cocok jadi ilustrator depresi.”
Adam melempar bantal kecil ke arah Rey.
“Tolong ya support-nya.”
“Tapi serius,” lanjut Rey sambil duduk bersila, “gambar lu sekarang beda.”
Adam mengernyit kecil.
“Beda gimana?”
“Lebih…” Rey mencari kata yang pas. “Hidup.”
Adam terdiam sebentar.