Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #43

#43 — Telur Ceplok, Tempe Orek, dan Harapan Baru

Cahaya pagi jatuh lembut dari sela tirai dapur yang sedikit terbuka. Debu-debu kecil melayang di udara bersama aroma minyak panas dan bawang putih yang baru dicincang. Dari luar rumah terdengar suara sapu lidi bergesekan dengan jalanan gang, diselingi suara burung dan pedagang bubur yang lewat pelan sambil memukul mangkuknya pelan-pelan.

Adam berdiri di depan kompor dengan kaus rumahan kusut dan rambut yang masih sedikit berantakan. Wajan kecil di depannya mengeluarkan suara mendesis saat telur menyentuh minyak panas. Pinggir telur mulai berubah kecokelatan sementara bagian tengahnya masih setengah matang.

Ia memperhatikan itu cukup lama.

Bukan karena takut gagal.

Tapi karena untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, ia memasak tanpa rasa panik.

Tanpa obsesi harus sama seperti ibunya.

Tanpa ketakutan besar kalau semuanya akan terasa kosong lagi.

Adam membalik telur perlahan.

Aroma gurih minyak dan kecap dari tempe orek di sebelahnya naik tipis memenuhi dapur. Dan kali ini—meski belum sepenuhnya jelas—ia bisa menangkap sedikit jejak rasanya.

Masih samar.

Masih naik turun.

Kadang ada.

Kadang hilang lagi.

Namun cukup untuk membuatnya berhenti memusuhi dirinya sendiri.

Pintu kamar terbuka pelan.

Milan keluar sambil menyeret langkah malas dan memegangi rambutnya yang acak-acakan.

“Laper…”

“Sikat gigi dulu.”

“Dikit aja nyicip.”

“Nggak.”

Milan mendecih kecil lalu tetap mendekat ke dapur sambil mengintip wajan.

“Wah, telurnya bagus.”

Adam melirik kecil. “Tumben nggak komentar gosong.”

“Karena emang nggak gosong.”

Adam terkekeh pelan.

Suara tawa kecil itu terasa ringan di rumah yang dulu terlalu sering dipenuhi tangisan diam-diam.

Milan duduk di kursi makan sambil menopang dagu.

“Aa…”

“Hm?”

“Aa sekarang lebih sering masak ya.”

Adam mengangguk kecil sambil memindahkan telur ke piring.

“Soalnya kalau nggak masak kita makan apa?”

“Indomie.”

“Itu bukan solusi.”

“Itu jalan ninja.”

Adam tertawa kecil sambil menggeleng.

Ia mengambil sedikit tempe orek dengan sendok lalu meniupnya pelan sebelum mencicipi.

Dan lagi-lagi…ada sedikit rasa.

Manis kecap yang tipis.

Sedikit asin.

Tidak penuh.

Tidak utuh.

Namun nyata.

Adam diam beberapa detik sambil menelan perlahan.

Milan langsung memperhatikan wajahnya.

“Ada?”

Adam mengangguk pelan.

Mata Milan langsung berbinar kecil.

“Beneran?”

“Iya… dikit.”

Milan langsung tersenyum lebar seperti anak kecil yang baru berhasil memenangkan sesuatu.

“NAH KAN!”

Lihat selengkapnya