Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #44

#44 — Teh Hangat Berdua dan Karedok Sore Hari

Langit sore menggantung lembut di atas kota kecil itu. Cahaya matahari jatuh miring ke jalanan yang mulai ramai oleh orang-orang pulang kerja dan anak sekolah yang mampir membeli jajanan di pinggir jalan. Angin membawa aroma gorengan, asap kendaraan, dan sesekali bau tanah dari pot tanaman yang baru disiram di depan rumah-rumah gang sempit.

Adam duduk di bangku kayu kecil depan warung makan sederhana sambil memutar pelan gelas teh hangat di tangannya. Uap tipis naik ke wajahnya, mengaburkan sedikit pandangannya sebelum hilang bersama angin sore.

Di depannya, sepiring karedok baru saja datang.

Sayuran segar.

Kol.

Kacang panjang.

Tauge.

Mentimun.

Disiram bumbu kacang yang harum dengan perasan jeruk limau tipis di atasnya.

Adam memandangi makanan itu cukup lama.

Dulu, karedok selalu mengingatkannya pada masa sekolah.

Pada jam pulang sore.

Pada suara tawa teman-temannya.

Dan terutama…

Indri.

“Masih suka bengong sendiri ternyata.”

Suara itu membuat Adam mengangkat kepala.

Indri berdiri di depannya sambil merapikan tas selempangnya. Rambutnya lebih panjang dibanding dulu, jatuh rapi di bahunya. Wajahnya masih sama—tenang, hangat, dan selalu membawa perasaan nyaman yang sulit dijelaskan Adam sejak lama.

Adam langsung tersenyum kecil.

“Kirain nggak jadi dateng.”

“Aku nunggu angkot satu jam.”

“Itu namanya nyerahin hidup ke transportasi umum.”

Indri terkekeh kecil lalu duduk di hadapannya.

Beberapa detik mereka hanya diam sambil membiarkan suara warung mengisi suasana. Bunyi piring beradu, suara sendok mengaduk es teh, dan obrolan pelanggan lain bercampur jadi latar yang akrab.

Tidak canggung.

Namun juga tidak sepenuhnya santai.

Karena sudah terlalu banyak hal terjadi sejak terakhir kali mereka duduk seperti ini.

Indri memperhatikan Adam diam-diam.

“Kamu kurusan.”

“Kamu langsung nyerang gitu ya.”

“Fakta.”

Adam tertawa kecil sambil menggeleng.

Lalu pandangannya turun lagi ke karedok di meja.

Indri mengikuti arah matanya.

“Masih belum ngerasain, Dam?”

Adam mengangguk kecil.

“Walaupun rasanya belum balik sepenuhnya.”

Indri tersenyum tipis.

“Tapi udah mulai kerasa kan?”

Adam menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk lagi.

“Iya.”

Jawaban itu sederhana.

Namun bagi mereka berdua, itu seperti jarak panjang yang akhirnya berhasil dilewati sedikit demi sedikit.

Pelayan warung datang membawa teh hangat untuk Indri. Aroma melati samar langsung bercampur dengan udara sore yang mulai dingin.

Indri meniup tehnya pelan.

“Aku sempet takut waktu Rey cerita kondisi kamu dulu.”

Adam diam sebentar.

“Parah ya?”

Indri tertawa kecil hambar.

“Kamu ngilang dari semua orang hampir berbulan-bulan.”

Adam menunduk pelan.

Ia ingat masa itu.

Lihat selengkapnya