Memori Rasa

Aditian Nugraha
Chapter #45

#45 — Opor Ayam Adam

Aroma santan hangat memenuhi seluruh rumah sejak tadi. Wangi serai, daun salam, dan bawang putih yang ditumis perlahan menyebar sampai ke ruang tamu, bercampur dengan suara kipas angin tua dan televisi kecil yang menyala pelan di sudut rumah. Cahaya sore jatuh lembut dari jendela dapur, memantul di permukaan panci besar yang terus mengeluarkan uap tipis.

Adam berdiri di depan kompor sambil menggulung sedikit lengan kemejanya. Tangannya bergerak tenang mengaduk kuah opor yang mulai mengental perlahan. Tidak terburu-buru. Tidak panik. Sesekali ia membuka catatan kecil di meja, tapi lebih sering ia memasak berdasarkan ingatan tubuhnya sendiri.

Bukan lagi sekadar meniru.

Bukan lagi sekadar mengejar rasa yang hilang.

Melainkan benar-benar memasak.

Dari ruang tengah terdengar suara Milan mengomel karena Rey menghabiskan kerupuk duluan.

“Kak Rey itu buat lauk!”

“Kerupuk bukan lauk, itu gaya hidup.”

“Kamu miskin nutrisi.”

Ferly langsung tertawa keras sementara Arga cuma menggeleng sambil memainkan sendok di tangannya.

Rumah yang dulu terasa terlalu sunyi kini kembali penuh suara.

Bukan suara yang sama seperti dulu.

Namun tetap hangat.

Adam tersenyum kecil sendiri sambil mematikan api kompor sebentar.

Di meja makan, piring-piring sudah tersusun rapi. Ada sambal kecil buatan Milan yang tampilannya terlalu merah, kerupuk, dan es teh yang mulai dipenuhi embun.

Dari arah teras terdengar suara sandal mendekat.

Indri datang sambil membawa kotak kecil.

“Maaf telat.”

“Tumben nggak nyasar,” sahut Rey cepat.

“Mulut lu emang harus dicuci sabun.”

Adam terkekeh kecil sambil berjalan keluar dapur.

Dan sesederhana itu saja, suasana rumah terasa semakin lengkap.

Indri berhenti beberapa detik saat aroma opor menyambutnya.

Matanya langsung melunak.

“Kamu bikin opor?”

Adam mengangguk kecil.

“Iya.”

Indri menatapnya sebentar lebih lama.

Karena ia tahu… opor ayam bukan sekadar makanan untuk Adam.

Itu kenangan.

Kehilangan.

Rumah.

Dan penyembuhan.

“Boleh bantu?” tanyanya pelan.

Adam tersenyum kecil. “Tinggal makan.”

Milan langsung protes dari meja makan.

“Enak banget hidupnya.”

“Diam.”

Mereka mulai duduk satu per satu di meja makan yang terasa lebih ramai dibanding biasanya. Agung baru pulang beberapa menit lalu dan sekarang duduk diam memperhatikan semua orang dengan wajah lelah yang kali ini tidak lagi kosong.

Ada sesuatu yang tenang di wajahnya.

Seperti seseorang yang akhirnya percaya keluarganya tidak hancur sepenuhnya.

Adam membawa panci opor ke meja perlahan.

Uap hangat langsung naik memenuhi ruangan.

Semua orang spontan diam beberapa detik.

Bukan karena opornya terlihat sempurna.

Justru sebaliknya.

Warnanya sedikit lebih kuning dibanding opor Artika dulu. Kuahnya lebih kental. Dan aroma rempahnya lebih kuat.

Berbeda.

Sangat berbeda.

Namun entah kenapa… tetap terasa familiar.

Agung menatap panci itu cukup lama.

Lihat selengkapnya