Pesawat kertas bergaris putih terombang-ambing di bawah langit terik. Angin yang mengantarnya membawa naik, kemudian turun dengan cepat, melewati tiang listrik, atap rumah, menghembus daun pisang, lalu mendarat tepat di pangkuan gadis kecil. Gadis itu duduk di ujung beranda rumah yang dilapisi semen, di bawahnya kebun yang tak begitu besar menghampar diramaikan pohon pisang dan jambu. Satu tangan gadis itu mengambil pesawat kertas di pelukannya, sedang satu lagi kembali memasukan buah jambu yang tinggal setengah ke dalam mulutnya. Kakinya yang menggantung dihentak-hentakkan.
Oktober 1997, Ria Arianti saat ini umurmu 10 tahun. Masih menikmati kebahagiaan, Mamah, Bapak, Nini, dan Aki masih ada. De Imay dan Dianti masih dekat, dan kamu juga masih sehat. Seandainya semua musibah itu dapat dicegah, mungkin bahagia itu akan lebih lama dirasakan. Sayang sekali nerakamu akan segera tiba, Ria.
Raut bingung membingkai wajah mungil Ria, matanya mengitari tiap sudut kebun di depannya. Lebih jauh ke luar pembatas kawat, ke jalan beraspal, mencari-cari siapa yang menerbangkan pesawat itu kepadanya. Nihil, hanya angin yang bertiup pelan dan lantunan surat Al-kahfi yang mengalun syahdu di pengeras mesjid. Ria melangkahkan kakinya menuruni tangga pendek penghubung pelataran rumah dengan jalan kecil di gang rumahnya. Kepala gadis itu memutar ke sana ke mari mencari-cari siapapun yang mencurigakan. Sebenarnya ia sedikit yakin kalau Cep Ari dan Dodo pelakunya, dua anak laki-laki itu memang temannya yang paling mungkin melakukan kejahilan seperti ini. Tetapi bahkan setelah ia menyebrang jalan dan menyapu sungai, kolam ikan, juga pesawahan yang terhampar jauh di ujung sana, matanya tak menangkap satupun sosok. Hari itu jum'at siang, selain di sawah dan ladang, orang-orang lebih memilih siap-siap pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat Jum'at atau sekadar menikmati hari di dalam rumah, jadi wajar saja kalau cukup sepi.
'Puk' Ria terkejut, sesuatu seperti jatuh ke pundaknya. "Nyari apa Ria?"
Gadis itu menengok dan mendapati Nini menatapnya bingung, ia yakin dari tadi pasti Nini sudah memperhatikan tingkahnya. "Enggak, aku cuma-"