Di Sabtu pagi, Ria sudah duduk nyaman di kursinya. Saat itu ruang kelas belum begitu ramai, jarum di jam dinding masih berhenti di angka 6 dan 7.
Tepat di bangku belakang dua bocah laki-laki tengah berceloteh mendebatkan kelereng siapa yang paling banyak. Si rambut cepak bernama Dodo menengadah menatap langit-langit, ia berusaha mengingat jumlah tepat bola-bola kaca miliknya itu. Ibu jarinya sibuk menekan buku-buku di jari-jari lain miliknya. Sementara di sampingnya anak dengan rambut berponi depan menatap serius. Cep Ari si bocah berkulit cerah itu menggebrak meja pelan saat Dodo mengatakan kalau kelereng miliknya berjumlah 30 buah, "Ceuk aku gen punyaku lebih banyak, ada 50!" dengan bangga Cep Ari menunjukan lima jarinya.
Ria menoleh ke arah mereka, wajahnya penuh keraguan tapi akhirnya bicara juga, "Hey, kemarin kalian ngirim surat ke rumahku ya? Bentuknya kayak pesawat."
"Hah, surat? Ngapain kita kirim surat ke kamu. Lagian perasaan kita kemarin habis pulang sekolah langsung main kelereng di lapang." Balas Dodo terheran.
"Bener Ria, kemarin habis adu kelereng kita langsung siap-siap ke mesjid, gak lewat rumah kamu. Emangnya kenapa Ria? Apa isi surat itu?" Cep Ari ikut menjelaskan.