Kamu membalasku Ria! Aku gak percaya ini, surat ku beneran sampe. Oke, jangan buang waktu. Ria percaya sama aku, kalo nanti De Imay ngajak main ke Batu Sungai, please jangan mau, jangan ikut. Cari alasan apapun pokoknya jangan mau atau kamu akan celaka. Kalo kamu tetep ikut, kamu bakal jatuh dan kaki kamu bakal pincang selamanya!
Ria mematung, rasa takut menyeruak begitu saja, menghantam kesadaran gadis itu mengantarnya pada bayangan-bayangan mengerikan. Apa tadi, jatuh dan pincang? Benarkah itu akan terjadi padanya?
"Riaaaa, mainn yuuukk." Deg, suara De Imay di halaman depan menambah irama gusar pada pikiran Ria, nafasnya memburu, tapi ia harus memastikan. Gadis itu membuka pintu depan, De Imay dan Dianti berdiri sumringah, ragu-ragu ia bertanya, "M-main apa?".
De Imay mengangkat sebuah piring seng yang penuh dengan nasi dan lauk-pauk, "Hayu botram!"
Segera saja kelegaan memeluk hati Ria, ia tersenyum menyambut, "Hayu, tunggu di kebun bawah ya!" Ria lalu masuk ke rumah, mengambil tikar anyaman yang disebut samak, lalu ke dapur. Kebetulan Nini sedang masak air di atas tungku. "Ni, mau botram." Ria turun ke dapur yang masih beralaskan tanah, ia mengambil piring seng. "Nasinya ada di boboko, rencang nasinya ada di dalam lemari." Telunjuk keriput Nini menunjuk sebuah kotak kayu tua di pojokan. Ria membuka pintu lemari itu, tergeletak dua potong telur dadar yang sudah dibagi di atas piring. Gadis itu mengambil satu lalu bergegas menemui teman-temannya. Tikar digelar tepat di bawah pohon jambu yang cukup rindang, ketiganya duduk nyaman.
"Kalian makan sama apa?" De Imay menatap piring Dianti dan Ria, matanya menyipit "Ih Ria cuma makan sama telur aja? Kayak aku dong sama daging ayam." Ria menatapnya kecut, "Ih, itu mah bukan daging ayam tapi capcay, huu!". Mendengarnya De Imay tak mau kalah, "Tapikan ada daging ayamnya, dari pada Ria cuma sama telur sepotong lagi." Ria menatap piringnya, jauh di pojok dapur, Nini yang tengah menunggu air matang menengok ke arah mereka.