Siang itu langit cukup muram serupa dengan wajah Ria. Semua kelas di sekolah dasar sudah dibubarkan, De Imay terlihat sangat semangat, di persimpangan ia kembali mengingatkan, "Jangan lupa nanti ke Batu Sungai ya! Nanti aku ke rumah kalian." Gadis berperawakan tinggi besar itu melambaikan tangan dan hilang di persimpangan. Ria masih terdiam, Dianti menyadari sesuatu, "Ria kenapa? Dari tadi diem aja." Ria menggeleng, "Gak papa Dian, aku cuma ngantuk." Jawaban itu menyelesaikan perbincangan di keduanya.
Sesampainya di rumah, Ria berganti pakaian lalu berbaring di atas kasur, tangannya masih memegang surat yg ia ambil dari dalam kaleng biskuit, tempat rahasianya. Matanya menatap langit-langit yang dihiasi bercak hitam, detak jarum jam bernyanyi di antara keheningan. Saat itu Aki masih di sawah dan Nini sedang berada di pancuran (jamban), di rumah hanya ada Ria. Lama ia terdiam, hingga terdengar pintu belakang dibuka, ia yakin itu pasti Nini.
"Riaaaa, hayuuu." Suara di luar itu membuat Ria makin gelisah, ia takut, tapi ia ragu. Akhirnya keputusan ia dapat, gadis itu memejamkan matanya pura-pura tengah berkelanan di alam mimpi. "Ria, itu ada De Imay di depan." Suara Nini tak sekalipun membuat Ria bergerak, akhirnya ia mendengar suara langkah kaki menjauh, samar ia juga mendengar Nini mengatakan kalau Ria tidur, tak lama pintu depan ditutup ia yakin De Imay sudah pergi dari halaman rumahnya. Hatinya lega tapi juga merasa bersalah, kepura-puraannya bukan untuk menyakiti temannya tapi sebagai pembuktian tentang kebenaran di balik surat itu. Alam mimpi kian menyambutnya, Ria benar-benar terlelap.
Gemuruh perbincangan yang keras menarik Ria ke alam realitas, ia mengucek matanya mengumpulkan kesadaran. Di luar ramai-ramai itu belum berhenti, ia lalu pergi melihat. Nini sudah berdiri di pagar rumah, di sisinya ada Ceu Inah yang sepertinya tengah menjelaskan sesuatu. Sementara itu di gang kecil depan rumahnya orang yang ia kenal sebagai tetangganya berlalu lalang. Tunggu! Itu kan Ayahnya Dianti. Ria segera mendekat ke Nini.