Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #7

Chapter 7

Gemericik air menari-nari saat terjatuh dari lengan Ria, noda-noda hitam keabuan perlahan memudar digosok paksa jemarinya, meski begitu bau tanah sawah masih tercium bebas di hidung gadis itu. Setelah kejadian mendebarkan di ladang hanya ada sedikit pembicaraan, Ria tau pasti banyak pertanyaan di kepala Aki tapi dia juga tahu kalau Aki hanya menganggapnya anak kecil yang pastinya tak bisa memberi penjelasan, sejenak ia bersyukur sebab ia pun tak mungkin mengatakan kalau seseorang memperingatkannya tentang musibah itu.

Jemari Ria berpindah ke sela-sela kakinya menggosok bagian paling kotor, yah sekarang kuku kakinya hitam sempurna, ia harus memotongnya lagi, ini tidak menyenangkan.

"Ria ngapain di sungai?" Ria mendongak, suara itu berasal dari Nini yang berdiri di samping sungai. "Kenapa bajunya kotor?" Nini menunjuk ujung celana Ria yang selutut. "Tadi aku jatuh ke sawah Ni, tapi yang kotor cuma ini aja dikit." Gadis itu segera membasuh bagian kotor di celananya. "Nah kan, kata Nini juga jangan lari-larian, jatuhkan." Suara Nini makin tegas.

Aki melempar sampah terakhir yang menyumbat saluran air ke sawah, ia lalu mendekati istrinya menjelaskan, "Tapi kalo bukan karena Ria lari-larian sambil teriak mungkin Aki udah celaka." Nini menatap suaminya serius, "Maksudnya?". Aki membantu Ria naik dari sungai, "Tadi pas lagi mangkas batang singkong entah gimana ujungnya pajuliwet, pas Aki potong salah satunya tiba-tiba yang lainnya malah ngejepret, untung pas itu Aki udah turun buat nolongin Ria yang jatuh, kalau enggak kayaknya mata Aki udah picek sebelah."

Ria menatap saksama Aki yang bercerita, baru kali ini ia melihat akinya itu berbicara panjang lebar selain saat bercerita tentang pengalamannya bersama Ki Mandala. Nini justru terlihat panik, menanyakan kabar dan menanyakan bagaimana ladang itu akan dilanjutkan, Aki menjawab, "Paling yang pajuliwet dibenerin dulu baru dibersihin lagi.". Nini terlihat lega, "Yaudah, kalo gitu hayu botram dulu." Nini memimpin jalan menuju saung kecil di samping ladang.

Satu persatu makanan dikeluarkan dari boboko, nasi dalam rantang yang ditutupi daun pisang, tiga ikan asin bakar, sambal oncom serta lalapan daun singkong rebus. Aki membagikan daun pisang yang disobek dari pohonnya yang tumbuh dekat saung untuk dijadikan alas nasi. Ria makan dengan lahap, tak ada yang lebih nikmat daripada makan siang setelah merasa lega terhindar dari musibah. Apalagi makan di saung bersama Nini dan aki, rasanya sejuk dan menyenangkan.

*****

Pagi sebelum berangkat sekolah, Ria termenung memperhatikan Nini yang sedang menabur garam ke atas nasi panas. Baru saja kemarin merasa tenang, tapi entah mengapa tiba-tiba saja perasaan was-was datang lagi, sudah dua kali keluarganya mendapat musibah, selanjutnya apalagi? Seakan pikirannya menunggu-nunggu, ia cemas bagaimana kalau musibah selanjutnya lebih berat, bagaimana kalau ia tak bisa mencegahnya?

Nini yang tengah membulatkan nasi menggunakan daun pisang yang telah dipanaskan di atas api, menatap cucunya penasaran, "Ngelamun apa Ria?" Ia mendekat dan menyerahkan satu bola nasi yang sudah rapi terbungkus.

"Aku cuma kepikiran, kedepannya bakal ada musibah apa di keluarga kita?" Ria menunduk, tangannya memutar-mutar bola nasi.

Lihat selengkapnya