Bel istirahat nyaring menggema, siswa dan siswi SDN Gunung 1 berlarian menyerbu kantin. Di bangku tengah De Imay menumpahkan wajahnya di atas tangan yang disilang di meja. Ria mengambil sekeresek makanan yang diberi Mamah memperlihatkannya pada Dodo dan Cep Ari yang tengah membereskan buku di bangku belakang, lalu ia duduk di samping De Imay. Dua anak laki-laki itu mengikuti dan duduk di bangku depan De Imay. Gadis kecil yang tampak sedih itu mengangkat kepalanya, matanya memandang bingung Ria yang mengeluarkan semua isi kresek. "Semalem Bapak sama Mamah aku pulang dari Jakarta bawa ini, katanya harus bagi-bagi sama kalian, sok ambil aja mau yang mana." Ria merapikan jajanan dimeja.
"Ria gak benci sama aku?" Tanya De Imay lirih, matanya memerah menahan tangis. Ria menatapnya bingung, "De Imay kenapa nangis? Aku gak pernah benci, emangnya kenapa aku harus benci?". De Imay membalas, "Soalnya gara-gara aku Dian jatuh, aku kira Ria juga benci sama aku gara-gara itu. Sejak Dian jatuh Ria gak pernah nyapa aku, bahkan kemarin nolak main sama aku." Wajahnya menunduk. "Ih, enggak De Imay, sebenarnya aku itu cuma lagi kepikiran sama Mamah dan Bapak aja jadi banyak diem, terus De Imay juga gak pernah nyapa duluan, tapi aku gak pernah kok benci sama De Imay, Dian jatuh aku juga sedih tapi itu kan musibah, yang penting nanti kalau Dian udah pulang kita jenguk bareng-bareng ya." Ria tersenyum melihat De Imay mengangguk. Di depannya Dodo terlihat melamun, Cep Ari juga seperti tak semangat memakan jajanan dari Ria. Gadis itu menyadarinya, "Dodo, Cep Ari kenapa? Gak enak jajanannya?", Cep Ari menggeleng, "Ini enak, tapi denger kalian ngobrolin Dian, jadi keinget lagi, kita juga sedih."
Ria hanya menggelengkan kepala, tidak menyangka dua teman lelakinya itu punya hati yang lembut. "Jangan sedih lagi, hayu makan ini." Ria membuka beberapa snack yang langsung disambar teman-temannya.