Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #9

Chapter 9

Ibu jari dan telunjuk kecoklatan memutar volume radio, menaikannya hampir full. Menggema dialog antar tokoh dari sandiwara radio pelan-pelan menyampaikan kisah emosional, hingga ketika semuanya tenggelam dalam bayangan adegan per-adegan, 'blar' listrik mati. Mamah dan Nini segera menyalakan damar usang yang telah dipenuhi jelaga. Ria mendengus kesal, "Baru juga mulai malah mati lampu." Gadis itu mendekati damar yang ditaruh di atas meja.

"Udah, jangan sedih, mending kita tatarucingan." Ujar Bapak.

"Mending dengerin Aki cerita waktu ikut berjuang pas Operasi Pagar Betis sama Ki Mandala. Banyak yang bisa Ria pelajari."

Gadis itu langsung menunjuk Bapak, "Hayu, tatarucingan aja." Bukannya tidak mau mendengar kisah heroik, hanya saja cerita itu telah berulang kali menyambangi telinganya, hingga ia ingat hal apa saja yang akan diceritakan Aki. Bahkan jika disuruh menceritakan dari awal hingga akhir ia bisa melakukannya persis seperti Aki bercerita. Ia tahu itu merupakan kebanggaan Aki membela tanah airnya, dan ia pun bangga. Tapi kali ini ia ingin hal seru lainnya jadi ia memilih tatarucingan.

Bapak terlihat berpikir, "Disauran ti handap, tapi kalah naek ka luhur?"

Ria mengerutkan keningnya berpikir keras. "Tukang gali sumur." Mamah nyeletuk. "Leures." Balas Bapak. "Lagi pak." Ujar Ria. Bapak mengelus dagunya, "Memeh baheula naon?" Tanya pria berkumis tipis itu. Hening cukup lama hingga Nini yang tengah mengoles minyak pereda nyeri sendi di kakinya bersuara, "Alip." Ria tercengang, "Kok bisa? Aku gak ngerti." Nini membalas, "Kalimatnya memeh ba hela naon? Alip dulu baru ba kemudian ta."

"Ooohh." Ria manggut-manggut tanda paham, "Bapak lagi. Tapi biar aku yang jawab, Mamah sama Nini jangan jawab ya!" Bapak lalu kembali memberi pertanyaan, "Kalimah naon anu dibaca ti hareup jeung ti tukang sarua hartina?" Telunjuk Ria mengetuk-ngetuk keningnya cukup lama, "Hayoh, apa tah?" Bapak mengompori, "Hayoh, katanya bisa jawab sendiri?" Mamah ikut menimpali. "Iihhh, syuutt." Jemari Ria menempel di bibirnya, ia kembali berpikir sampai akhirnya menyerah. "Taluk?" Tanya Bapak, Ria hanya mengangguk. "Kasur ini rusak." Ria masih memahami maksud jawaban Bapak. Ia berlari ke kamar yang gelap membawa sepotong kertas dan pena lalu menuliskan kalimat itu, ia membacanya terbalik, matanya berbinar, "Ih beneran sama, bisa gitu ya." Bapak tersenyum bangga.

"Dari tadi Bapak wae yang ngasih tatarucingan, sekarang Ria coba." Ujar Bapak, Ria tersenyum penuh arti, "Oke, dengerin ya. Luhurna bodas, handapna koneng, naon tah?" Semua orang ikut berpikir, tapi sama sekali tidak ada yang bisa menebaknya.

Lihat selengkapnya