Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #10

Chapter 10

Malam ini langit sangat terang, ada banyak manik-manik putih yang berkelap-kelip. Di puncaknya rembulan menggantung di antara awan-awan kelabu, rupa-nya seperti lampu neon. Sepanjang jalan Ria menatap pemandangan itu, angin dingin mulai menyusupi jaringan kain yang dikenakannya lalu menusuk tepat di lubang kecil pori-pori kulitnya.

Wajahnya tambah cerah setelah menangkap sosok yang dikenalnya tengah melambai di depan gardu dekat persimpangan. Ia berlari meninggalkan teman-temannya mendekat.

"Hayu Pak!" Seru Ria.

Bapak menyalakan senter peraknya, jalan yang semula jatuh dalam pelukan siluet malam perlahan menunjukan lagi wujud aslinya di bawah pendar lampu senter. Mereka berjalan beriringan. Ria melompat-lompat kecil sambil memeluk Al-Qur'an yang telah menemaninya mengaji di surau.

Semakin dekat dengan jalan kecil menuju peraduannya, gadis itu menangkap suara ramai-ramai. Kemudian ia baru ingat, sehabis dari sawah siang tadi dia mendengar kalau tetangga depan rumahnya sudah pulang. Orang yang tinggal di rumah itu adalah orang kaya menurut Ria, karena mereka punya TV tinggalnya juga di kota hanya sesekali pulang ke rumahnya di kampung sini. Ria sangat menyukai pemilik rumah itu karena mereka sangat baik, kalau sedang pulang ke sini pasti malamnya mengundang tetangga untuk nonton TV meskipun hanya sesekali, tapi baginya itu adalah momen paling ditunggu, apalagi mereka juga suka menghidangkan camilan yang enak-enak.

Lihat selengkapnya