Sebuah mobil hitam berhenti di tepi gang, Ria menarik kembali kakinya yang hampir menyentuh tanah jalan sempit depan rumahnya. Gadis itu memperhatikan orang-orang yang keluar dari mobil, ia semangat saat melihat gadis seusianya dibopong, ia kenal orang itu, Dianti.
Begitulah ia kemudian menceritakan kalau sahabatnya Dianti sudah pulang dari berobat, semua temannya mengucap syukur. Penuh antusias Ria mengajak mereka menjenguk Dian, Dodo dan Cep Ari setuju, tetapi De Imay justru menunduk. "Kenapa De Imay?" Ria menatap bingung. "Aku takut dimarahin, Bapaknya Dian kan galak." Wajah De Imay tenggelam dalam sayu. "Kan itu kecelakaan bukan salah De Imay." Ria menepuk punggung sahabatnya itu. "Ria bener, kita gak ada yang tau kalau hari itu Dian bakal jatuh, itu musibah." Tambah Cep Ari. "Lagian kan kita ke sana mau jenguk Dian, justru kalo gak jenguk malah Diannya yang sedih, Bapaknya juga pasti nyangka kita salah." Apa yang diucapkan Dodo itulah akhirnya bisa meyakinkan De Imay.
Pintu rumah terbuka setelah berulang kali Ria dan teman-temannya mengucap salam. Seorang perempuan awal 30-an berpenampilan hangat keluar, "Wah, temen-temennya Dian ya, hayu masuk." Perempuan yang adalah Ibunya Dianti menunjukan kamar anaknya. Dianti terbaring di atas kasur kapuk tanpa ranjang, tubuhnya terbalut selimut, wajahnya cerah saat melihat semua sahabatnya datang. Ria menghambur memeluk Dianti, ia menangis dalam hatinya berkali-kali meminta maaf, ia masih menganggap apa yang terjadi pada sahabatnya itu adalah akibat dirinya yang menghindar. Di belakang De Imay duduk diam sambil menangis, "Ria jangan nangis, aku baik-baik aja kok." Dianti menepuk punggung Ria yang sesenggukan, Ria melepaskan pelukan sembari mengelap guratan air di pipinya. Dian menatap De Imay yang menunduk, "De Imay, aku gak papa kok." De Imay menghambur memeluk Dianti erat, "M-maaf, maafin aku Diannn, gara-gara aku ngajak main di sana Dian jadi gini." Tangisnya masih menyela di antara panjangnya kata maaf yang terus diulang gadis berkulit sawo matang itu.