Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #12

Chapter 12

Riuh bacaan surah Ya-Sin dari speaker mesjid masih menjangkau samar-samar, sedangkan di rumah keluarga Ria, semua orang baru saja menutup buku Ya-Sin yang selesai dibaca. Ria masih mengenakan mukena putihnya, ia terlihat lebih murung, kepalanya menunduk melihat foto yang tertera di sampul buku Ya-Sin. "Ria kenapa? Ada yang sakit?" Bapak duduk di samping anaknya yang belum beranjak. Ria menggeleng dengan suara pelan ia bertanya, "Bapak sama Mamah kapan berangkat lagi?" Gadis itu menatap pria di sampingnya. "Hari Minggu." Jawab Bapak.

Ria terdiam sebentar, "Pak, kalo berangkatnya Minggu depan aja bisa gak?" Wajahnya masih menunduk. "Kok gitu, kenapa emangnya?" Raut Bapak terlihat bingung. Ria makin gugup, alasan apa yang harus ia pakai? Tidak mungkin mengatakan kalau Bapak akan meninggal kan? "A-aku cuma masih kangen aja sama Mamah sama Bapak."

"Loh, bulan depan juga kan ketemu lagi, biasanya juga gitu." Mamah tiba-tiba menimpali, ia masih membereskan mukena, sejadah dan buku-buku Ya-Sin yang tadi dipakai. Ria tak menjawab tubuhnya bergetar, matanya berair, ia lalu berlari ke kamarnya, menelungkupkan diri. Di luar semua orang terpaku memperhatikannya. Nini menasihati "Udah, biarin aja, biar tenang dulu anaknya." Setelahnya kepala-kepala itu kembali pada pikirannya masing-masing.

Ria meremas guling disampingnya, ia memeluk dan menekan benda itu pada wajahnya, membiarkan semua air di matanya tumpah pada kain berisi kapuk itu. Potongan kalimat dari surat mengerikan itu kembali terngiang.

"Bapak ditusuk sampai meninggal, terus Mamah nikah lagi tapi suaminya bawa Mamah ke luar kota dan gak akan pernah ketemu kamu lagi..."

Di pikiran si gadis juga terucap lagi kalimat terakhir Mamah tadi, "Bulan depan juga kan ketemu lagi.." Bulan depan? Jika apa yang ditulis dalam surat itu benar-benar terjadi, apakah bulan depan masih ada pertemuan untuk mereka?

*****

Angin berdesir meniup dedaunan, matahari yang ada di puncak langit kembali menebarkan endapan hawa panas. Untung saja pohon-pohon masih rimbun dan angin masih mau bermain-main di sana sehingga Ria sama sekali tidak kepanasan meskipun masih berseragam Pramuka lengkap dan duduk di tepian halaman samping rumah. Secarik kertas sudah di pangkuan, pena-nya pun telah digenggam, bahkan kalimat-kalimat keluhan telah berbaris rapi di garis-garis pembatas kertas.

Lihat selengkapnya