Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #14

Chapter 14

Kertas bergaris dengan bait-bait kata mengerikan hampir sobek diremas Ria. Bagaimanapun ia berusaha orang tuanya tetap mantap berangkat di hari itu. Sejak pagi semua orang sudah sibuk mempersiapkan keberangkatan, hanya Ria yang diam dalam keraguan besar. Paru-parunya panas, sesak, kepalanya sakit, rupa-rupanya kecemasan sudah semakin dalam merasuki gadis itu.

Sesungguhnya Ria adalah anak penakut, selama ini ia selalu penurut belum pernah membangkang. Orang-orang bilang ia pengertian sebab selalu mengalah dan paham situasi, belum pernah ia memaksakan kehendak. Tetapi untuk kali ini, ia harus egois, jika tidak jangankan bertemu lagi bulan depan, mungkin esok ia hanya akan menjumpai jasad Bapak.

Anak perempuan itu memejamkan matanya, "Aku harus berani, biarlah hari ini aku menjadi nakal, manja atau gak masuk akal, yang penting Bapak selamat." Ia beranjak ke luar. Tepat saat Bapak akan turun dari undakan. Ria memegang erat tas jinjing yang dibawa Bapak. "Bapakk, jangan berangkat sekarang..." Ia menangis keras.

Nini segera menyeret Ria, tangannya terlepas dari tali tas, ia menatap punggung Bapak yang makin menjauh. Entah tenaga dari mana, gadis itu menghempaskan pegangan Nini, ia berlari memeluk kakik Bapak, tangisannya makin keras. Dari beberapa pintu rumah orang-orang datang melihat. Beberapa ada yang bertanya, beberapa ada yang saling berbisik, tapi Ria tidak peduli satu-satunya tujuan ia saat itu hanyalah agar Bapak tidak pergi.

"Coba bawa dulu ke pemberangkatan bis atuh Ni Amba, siapa tau cuma pengen nganter sampe sana." Celetuk Ceu Inah.

"Iya kali ya, biasanya gak gini. Biasanya bager da, sekarang entah kenapa jadi gini." Nini mendekati Ria sambil berusaha melepaskan pegangan gadis itu.

Bapak dan Mamah saling pandang akhirnya mereka sekeluarga ikut ke pemberangkatan bis. Ria masih memegang erat tangan Bapak. Bis tujuan tinggal beberapa langkah, Bapak berjongkok menatap Ria, tangannya mengelus gadis itu, "Ria, jadi anak baik ya, Bapak sama Mamah mau cari uang dulu buat Ria, jangan bandel." Cengkraman Ria justru makin erat, Nini dan Aki sampai harus menyeretnya. Gadis itu menangis lagi matanya sudah perih suaranya sudah serak, bahkan pegangan yang ia pertahankan mati-matian juga melemah. Pada akhirnya jemari mungil itu kehilangan pijakannya, hanya udara yang menyusuri sela-sela jari yang masih berusaha menggapai. Mamah sudah naik undakan bis, Ria tak tahan lagi ia justru berlari tanpa arah. Di belakang teriakan-teriakan tak ia hiraukan, ia hanya terus berlari.

Lihat selengkapnya