Aki menyeruput teh tawar hangat dari mug loreng hijau kesayangannya, "Jadi gimana Mat Pak Taryo?". Bapak mengambil sepotong ulen goreng lalu menjawab, "Alhamdulillah udah ngizinin Pak, Pak Taryo juga udah denger soal anaknya H. Tatang dia juga hariwang katanya, jadi berangkatnya diundur Kamis, semoga gak ada halangan lagi." Ulen yang sedari tadi digenggamnya itu akhirnya masuk ke mulut juga.
Dari kamar tengah sepasang kaki mungil berjalan cepat, menghasilkan gedebug pelan di antara kayu-kayu yang menjadi lantai rumah panggung itu. Di tangannya kaleng wafer yang sudah mengelupas dipeluk erat. Ia menaruhnya di tengah-tengah lingkaran yang dibuat keluarganya. Sesaat setelah tutup kaleng terbuka, belasan kertas terjatuh dan menumpuk di atas tikar, Ria mengeluarkan seluruh isinya.
Tangan-tangan lain berhambur mengambil masing-masing satu. "Dari awal peringatan soal batu sungai, kecelakaan Aki, dan Bapak, semuanya dari surat-surat ini. Kalau gak ada peringatan dari surat itu, mungkin kita semua bakal celaka." Tukas Ria.
"Coba bacain isinya apa?" Perintah Nini ia memang buta huruf tentu saja tak bisa memahami isi surat itu. Akhirnya, Bapak benar-benar membacanya satu persatu.