Di bangku kedua dari belakang beberapa siswa berkumpul. Saat Ria sampai di mejanya ia melihat Dianti sudah duduk di kursi sebelahnya. Gadis itu berteriak kegirangan lalu memeluk sahabatnya itu. "Alhamdulillah Dian udah sembuh?"
Dianti mengangguk dengan senyuman, "Sebenernya belum sembuh banget masih ada sakitnya jalannya juga masih harus pelan-pelan. Tapi aku seneng udah bisa sekolah lagi."
"Pokoknya kalo Dian mau ke mana-mana bilang aja sama aku nanti aku bantu jalannya." Cetus De Imay menepuk-nepuk dadanya.
"Bilang juga ke kita kalo ada apa-apa nanti pasti kita bantu." Sahut Cep Ari sembari merangkul Dodo yang juga mengangguk.
Dianti terlihat senang, "Makasih ya, kalian emang temen terbaik aku."
"Paling penting Dian kalo emang gak mau bilang aja gak mau ya jangan dipaksain." Balas Ria, mendengarnya Dianti mengangguk sembari tersenyum.
"Ihh apa Ria sok ngomong gitu, pas Minggu aja masih nangis guling-guling di gang, kayak anak kecil aja." De Imay memasang wajah julidnya.
Ria tak sakit hati dengan ejekannya sebab ia sudah terbiasa. "Biarin, emang aku masih kecil." Ia menjulurkan lidahnya. "Tapi kok De Imay bisa tau rumah kita teh kan jauhan?" Wajah mungil itu kembali menatap Imay penuh penasaran.
"Kata Ceu Inah, sekampung udah tau kayaknya." Ungkap Imay.
"Astaghfirullah, ini mah aku bakal terkenal jadi anak nakal." Tangan Ria menopang dagunya pasrah.
"Ria kan emang anak nakal."
"Diem De Imay, aku cubit ya." Dua jari Ria membentuk capit hendak mendekat ke De Imay, gadis berkulit sawo matang itu segera bersembunyi di balik punggung Cep Ari.
"Emang Ria nangis kenapa?" Kini Cep Ari yang ingin tahu.
"Hmm, kalo aku cerita kalian pasti gak bakal percaya." Ria menandang satu persatu temannya yang menampilkan wajah bingung.
"Aku pasti percaya sama Ria." Dian tersenyum manis.
"Emang apa?" Tanya Imay.
"Kalo mau cerita mah ya cerita aja dulu, soal percaya atau enggak itu nanti setelah denger ceritanya." Balas Dodo, selain Imay dia juga salah satu teman Ria yang agak menyebalkan karena selalu bicata terus terang.
"Aku jadi penasaran, cerita aja Ria, aku pasti percaya kok." Cep Ari memang selalu ramah.
"Jadi, aku mimpi kalo pas hari Minggu Bapak sama Mamah aku berangkat ke kota naik bus itu, di jalan pasti celaka. Aku mimpi Bapaku meninggal, jadi pas mau berangkat aku nangis aja biar mereka gak jadi naik bus hari itu." Penjelasan Ria menenggelamkan teman-temannya pada keputusan apakah harus percaya atau tidak. Mereka teridam.
"Kan kata aku juga kalian pasti gak percaya." Ria menggerutu, dia terlihat kecewa.
"Bukan gitu tap-"
"Aku percaya." De Imay memotong perkataan Dodo, tapi yang membuat semua orang terpaku bukan karena itu. Mereka hanya merasa aneh pada sikap Imay, biasanya dia yang paling menyanggah pernyataan teman-temannya.