Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #17

Chapter 17

Ria berjalan ringan menenteng tasnya, di teras Aki tengah memangkas beberapa ranting untuk kayu bakar. "Aki, Nini mana?" Ria duduk di dipan dekat pintu, ia membuka sepatunya. Aki berhenti sejenak meluruskan pinggang, "Nini lagi moyor ke sawah, banyak sampah di sungai katanya takut banjir kalo hujan turun." Setelahnya ia kembali memotong ranting agar pas ketika dimasukan ke dalam tungku api.

"Bapak mah, anterin gitu istrinya, malah dibiarin pergi sendiri." Mamah tiba-tiba menyela di belakang Ria. "Emak kamu udah biasa ke sawah." Setumpuk ranting yang telah terikat dibawa Aki ke jalan samping rumah, menuju dapur.

"Mamah belum berangkat?" Tanya Ria.

Mamah berpaling ke arah Ria, lalu menjawab, "Belum, tadi Bapak dipanggil Pak Taryo belum pulang dari pagi."

Dari ujung gang seorang pria berjalan mendekat, di tangannya buah nangka yang cukup besar menggantung. Aromanya menyeruak, langsung menggoda tiap hidung di sana. "Bapak bawa apa itu?" Bapak menyimpan Nangka itu di samping Ria, wajah gadis itu sumringah.

"Gimana Kang?" Tanya Mamah.

"Warung di kota kebanjiran, rusak parah, Besok Pak Taryo mau lihat sendiri sekalian dibenerin. Kita gak jadi berangkat sekarang, nunggu kabar dari Pak Taryo."

"Terus ini Nangka dari mana?" Mamah menunjuk buah berkulit tajam di depannya.

"Tadi pas ke sana Pak Taryo lagi panen buah Nangka, jadi sekalian bantuin, nah ini dikasih buat Ria."

"Asiiikkk." Ria mengangkat dua tangannya tinggi-tinggi, Bapak mengelus kepala anaknya dengan senyum lebar.

"Yaudah, Mamah bawa ke dapur ya, nanti sore kita belah." Nangka itu akhirnya berpindah tangan.

Lihat selengkapnya