Suara dari acara kartun terdengar nyaring, Dianti lalu menurunkan volume setelah Ria dan Pak Rahmat masuk dibawa Ibu. Ria duduk di salah satu kursi panjang tepat di sebelah Dianti yang tengah selonjoran, sedangkan Bapak di seberangnya. Kebetulan Ayahnya Dian juga di sana, duduk di kursi tunggal menemani anak satu-satunya menonton TV. Keluarga Dianti bisa dikatakan salah satu yang mampu di kampung itu, hanya saja Pak Didi terkenal galak dan Bu Ida juga punya banyak aturan, itu sebabnya kalau main bersama jarang di rumah Dianti.
Dian terlihat senang teman baiknya berkunjung lagi, Ria pun semangat apalagi saat itu ia bisa ikut menonton acara TV.
"Ini Pak Didi, Ria pengen jenguk Neng Dian, katanya pengen ngasih ager." Bapak mendorong benda bulat di dalam kresek. Tak lama Bu Ida datang membawa dua teh tawar dan sepiring misro dan gemblong. "Wah, makasih udah repot-repot. Beginilah keadaannya masih belum bisa jalan tapi alhamdulilah mulai membaik." Ucap Bu Ida, tangannya telah selesai membagikan gelas yang sebelumnya ia tenteng.
Pak Didi kemudian mengoperkan kresek pemberian Bapak pada istrinya, benda itu dibawa ke dapur.
"Saya udah bawa ke rumah sakit gede, ke alternatif juga, bisa sembuh tapi harus rutin." Tambah Pak Didi.
"Alhamdulillah kalau Neng Dian udah makin membaik, memang kalau luka di kaki butuh waktu sembuhnya. Tapi Pak, sebenarnya ini teh gimana kejadiannya kok bisa lagi main sampe jatuh separah itu?" Tanya Bapak.
"Katanya disuruh lompat dari batu ke sungai jadi-"
"Bukan gitu pak. Bukan lompat ke sungai tapi ke batu." Sanggah Dian.
"Coba atuh Dian ceritain dari awal, aku juga belum denger, soalnya gak ada yang bahas kejadian itu setelah Dian di rumah sakit." Pinta Ria, gadis berambut bob di sampingnya mengangguk, ia lalu menceritakannya.
Langit biru seperti lautan, di bawahnya Dianti dan De Imay tengah memetik bunga Wedelia Kuning dan Kintolod. Dodo dan Cep Ari mendekat. "Hey, main lompat kodok yu, di sana." Dodo menunjuk dua batu besar yang berjarak tak jauh. Teman-temannya melihat arah telunjuknya. "Ih gak mau ah, capek mending ngumpulin bunga." Tolak De Imay, yang lain setuju. Dodo tak menyerah, "Nanti yang bisa lompat dikasih hadiah. Aku traktir bakso di Bi Ruk." Bujukan itu berhasil meluluhkan teman-temannya.