Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #19

Chapter 19

Ria berdiri menatap sebuah rumah panggung di tengah kebun, pelatarannya asri dan ada banyak bunga yang ditanam di dekat pagar bambu. Di belakang Bapak dan Pak Didi berdiri, "Assalamualaikum." Sudah dua kali Bapak mengucap salam tetapi si pemilik rumah tak kunjung keluar.

"De Imaaaayyy, ini Riaa." Panggilan gadis itu akhirnya membuat pintu rumah terbuka. Seorang gadis dengan rambut kuncir kuda menghampiri. Ria bisa menangkap raut keterkejutan di wajahnya, langkahnya ragu-ragu bahkan tepat setelah di depan pintu ia justru terdiam.

"A-ada apa ya?" Tanya gadis bernama lengkap Dede Imayanti itu terbata-bata.

"Kami ke sini mau nanya sesuatu sama De Imay, boleh gak kita masuk?" Bapak berusaha berbicara seramah mungkin. De Imay mengangguk ragu.

Di ruang tamu yang sederhana, mereka duduk di kursi busa berbentuk L. Ada banyak pajangan di dinding, dari foto-foto pernikahan, hingga poster-poster artis. Suasananya klasik dan sejuk. Saat itu di rumah hanya ada De Imay karena orang tuanya ada di sawah sedangkan kakak-kakaknya tinggal di kampung sebelah. Tak lama De Imay datang dari pintu dapur membawa tiga gelas air putih, ia segera menyajikan di atas meja, kemudian duduk di sebelah Ria.

"Mau nanya apa?" Tanya De Imay.

"Soal jatuhnya anak saya Dianti." Balas Pak Didi.

Wajah De Imay berubah tegang, rasa takutnya sangat kentara. "Tenang, kami cuma mau memastikan sesuatu. Waktu main ke Batu Sungai itu ada yang ngajak atau inisiatif De Imay?" Tanya Bapak.

Gadis yang ditanya terdiam sejenak, Ria lalu menggandeng tangannya mencoba menenangkan, "Gak papa De Imay jawab aja, Bapak aku cuma pengen tau. Mereka gak akan nyalahin kamu."

Lihat selengkapnya