Aroma legit bakso menguar dari dapur sebuah rumah bercat biru. Ria menghirup wangi masakan yang terbawa angin itu dan menikmatinya. Ia tengah duduk bersama Bapak di salah satu meja kayu yang tersedia di halaman rumah milik seorang pedagang bakso. Matanya berkeliling, ia mengagumi tata letak bangunan itu. Ukurannya tak begitu besar tetapi terawat, di ujung teras berjejer pot dengan bunga warna-warni. Sementara halamannya ditanami rumput jepang. Rumah itu terletak di dataran tinggi, di bawahnya sungai yang jika diteruskan sedikit akan sampai di tempat indah bernama Batu Sungai. Di samping terdapat sawah-sawah yang posisinya lebih rendah dari pekarangan rumah itu, sehingga dari sana semua tempat bisa terlihat termasuk sawah yang digarap Aki.
Saat itu angin berhembus cukup kencang, menggoyang ranting-ranting dari pepohonan yang berjejer seperti pagar pembatas antara tingginya tanah di halaman dengan sungai yang cukup deras. Ria sangat suka tempat itu, udaranya sejuk, pemandangannya indah, apalagi ada gemericik air yang jatuh ke batu-batu di sungai dan aroma bakso yang berkaldu.
"Pak, katanya mau nyari tau soal musibah Aki, kenapa kita malah jajan bakso?" Ria mengerutkan keningnya meminta penjelasan.
"Ini juga lagi nyari informasi."
"Maksudnya?"
"Udah, Ria liat dan dengerin aja nanti."
Sebenarnya Ria belum paham kenapa Bapak mengajaknya ke sini, padahal kemarin dengan jelas berkata akan menyelidiki perihal kemalangan Aki. Namun, ia mempercayai Bapak jadi ia akan menurut saja. Lagian kapan lagi dia bisa jajan bakso porsi besar ditambah es ketan dan es pisang coklat.
Gadis itu terperanjat dari lamunannya ketika melihat seorang perempuan berusia pertengahan 40-an mendekat, di tangannya ada nampan besar berisi dua mangkuk bakso, dua teh manis, dua es pisang coklat, dan dua es ketan hitam.
Bapak menyambutnya dengan senyuman. "Jarang-jarang Jang Rahmat beli bakso di sini, biasanya cuma Neng Ria sama Ni Amba." Perempuan berperawakan besar itu menaruh satu persatu benda di nampannya. "Iya Bi Ruk, kebetulan agak lama di sininya." Balas Bapak.
"Kenapa ning? Biasanya seminggu ya, Ni Amba pernah cerita." Raut wajah Bi Rukmini penuh dengan keingintahuan.
"Itu, warung di kota tempat saya dagang kebanjiran jadi lagi dibenerin dulu sama yang punya. Terus denger Bapak hampir celaka kena sabetan batang singkong sama Emak hampir hanyut saya jadi gak tenang mau berangkat juga." Bapak menampilkan wajah sedih dan putus asa.
Bi Rukmini tidak jadi pergi, justru duduk di samping Ria, sampai-sampai gadis itu harus bergeser di bangku panjang yang didudukinya. "Astagfirullah, kalo soal kejadian Ki Basari saya tau soalnya waktu itu Neng Ria teriak, jadi saya penasaran terus gak lama emang ada yang ngejepret kenceng banget, saya juga kaget. Tadinya mau nanya tapi keburu ada yang beli. Itu gimana Ki Basari?"