Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #21

Chapter 21

Di bawah lampu pijar yang tak begitu terang orang-orang di rumah Ria telah duduk berkumpul di kursi yang melingkar. Wajah tiap orang sangat serius, di atas meja surat yang dikirim minggu kemarin tergeletak dipandang semua mata. Jelas kepala-kepala itu tengah bergelut dengan prasangka dan sangkalan ketidakpercayaan.

"Dari kemarin saya sama Ria udah nyari tahu, kecelakaan di batu sungai ternyata Mang Hendar yang nyuruh Dodo buat main lompat kodok dan harus ajak temen-temennya terutama Ria dia ngasih uang ke anak itu, Neng Dian juga bilang pas dia jatuh Mang Hendar manggilnya Ria bukan Neng Dian seolah dia tau kalo yang jatuh pasti Ria. Untung aja Ria gak ikut tapi malah Neng Dian yang kena. Kemarin juga Pak Didi ikut nanya-nanya ke anak-anak jadi tau dan katanya mau minta bantuan amangnya Neng Dian yang polisi buat nyelidiki. Terus tadi siang saya sama Ria sengaja ke rumah Bi Rukmini selain beli bakso juga nanya-nanya soal kejadian batang singkong yang ngejepret, katanya sehari sebelumnya dia liat Mang Hendar jalan ke ladang suudzon saya dia juga yang bikin kusut taneman itu biar pas dipangkas batang singkong yang lainnya langsung ngejepret ke Bapak Aki." Bapak menjelaskan dengan suara datar seolah sedang memberi laporan. Hal ini sengaja dia lakukan biar tidak menyulut emosional.

Tapi tetap saja hal itu memberikan hantaman cukup keras di pikiran mereka. "Nini, waktu dulu jatuh kejadiannya gimana?" Kali ini Ria yang bertanya seolah sedang meminta kesaksian dari korban.

Perempuan dengan baju kebaya biru langit yang sederhana itu mengingat, lalu mulai bercerita.

Cahaya matahari menerobos celah-celah daun yang rimbun menuju bebatuan dan rumput-rumput di pinggiran pematang sawah. Amba tengah mengeluarkan sampah-sampah yang menyumbat talang penghubung sungai dan sebidang sawah. Berbagai sampah telah berserakan di atas pematang. Tangannya yang hendak mengambil satu lagi plastik bekas, terjerat sulit menggapai, ia lalu turun ke sungai dan menaiki salah satu batu. Pakaiannya setengah basah terciprat oleh air yang jatuh dari bagian sungai di sampingnya yang lebih tinggi.

'Plung' sesuatu mengenai sinjangnya kemudian jatuh ke air. Ia sempat menengok, matanya memicing saat menyadari ada seseorang di rimbun pepohonan. Pikirannya menepis, ia kembali mencoba mengambil sampah plastik yang berada sangat jauh di dalam talang. Kali ini ia menggunakan sebilah bambu ramping dan panjang yang ia temukan di antara bebatuan. Tubuhnya hampir menempeli undakan sungai tempat air jatuh seperti air terjun.

'Plung' benda itu kali ini mengenai pundaknya, sebuah kerikil. Ia memandang lama bagian seberangnya, tiba-tiba sebuah batu besar datang kepadanya. Ia refleks menghindar tapi tubuhnya justru terlempar ke air. Saat itu volume sungai cukup tinggi, arusnya pun cukup deras. Amba yang tak bisa berenang hanya mencoba mengambil nafas, tubuhnya diseret air yang mengalir kuat. Matanya melihat sekitar, sampai seseorang datang dari rimbun pepohonan lalu masuk ke air. Saat orang itu muncul ke permukaan, itu Hendar.

Ria mendengarkan dengan fokus, tetapi kemudian buyar saat tak sengaja menatap wajah Aki yang duduk di samping Nini. Ekspresinya datar tetapi matanya tajam, Ria paling ngeri ketika melihat Aki dengan wajah dinginnya sebab saat itulah amarahnya sedang di puncak. Ria jelas tau bukan karena ia cucunya tetapi dari dua kepal tangan yang saling meremas erat seolah sebentar lagi hendak mematahkan hidung seseorang.

"Tapi, buat apa dia ngelakuin itu? Apa untungnya? Keluarga kita gak pernah ada masalah sama dia." Ucap Nini lagi.

"Mungkin karena itu." Mamah tiba-tiba bersuara

Lihat selengkapnya