Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #22

Chapter 22

Langit mulai kemerahan, burung-burung berterbangan seperti siluet hitam di langit. Di lapang bola anak-anak masih berlarian mengejar bola, sedang di kursi-kursi panjang di pinggirannya Ibu-ibu duduk bergosip, terkadang menyuapi anak-anaknya yang tengah kejar-kejaran di sekitar. Senyum merekah tergores saat Bapak dan Ria dengan ramah tersenyum dan setengah menunduk sembari berkata "Parunten!".

Sore itu sehabis Ashar Aki mengajak menantu dan cucunya pergi ke rumah Ki Mandala dan saat ini mereka telah sampai di depan rumah Sang Juragan Kelapa. Pekarangannya luas, dibatasi pagar tembok, ada pohon rambutan, mangga dan jambu batu. Dari samping bangunan besar milik Ki Mandala seorang pria pertengahan 30-an tergopoh-gopoh menghampiri. Ia bertanya dengan penuh kesopanan, "Punten, ada keperluan apa?"

Aki menjawab dengan wajah dinginnya, "Saya mau ketemu Kang Mandala, ada perlu."

Orang itu hanya mengangguk lalu segera masuk lewat pintu depan rumah. Tak lama dia datang lagi, "Mangga masuk." Tangannya dengan sopan mempersilakan.

Ria benar-benar takjub dengan isi rumah, lampu yang menggantung punya bentuk unik seperti bunga dan besar, hiasan-hiasan di sudut-sudut, bahkan saat ia duduk kursinya sangat empuk, pemandangan ini memang tak aneh bagaimanapun juga Ki Mandala itu salah satu juragan kaya di kampungnya.

Seorang perempuan muda mendekat dengan tiga gelas teh hangat di atas nampan, di belakangnya pria tua dengan tongkat kayu antik muncul dari balik pintu. Itulah Ki Mandala perawakannya tak kalah seram dari Aki, wajah tegas dan aura mendominasi.

Wajah garang itu berubah ramah saat melihat Aki, "Basari! Awis tepang, udah lama gak ketemu, terakhir pas lebaran nya, gimana kabar sekeluarga?" Ki Mandala segera memeluk Aki, wajahnya sumringah seperti teman lama yang baru kembali berjumpa. Ia kemudian duduk tepat di seberang Aki.

"Sekarang alhamdulilah sae, tapi sebelumnya hampir celaka sekeluarga."

Kening Ki Mandala berkerut, wajahnya berubah serius, "Euleuh, gening ada apa?"

"Saya sebenarnya berat mau ngomong tapi hal ini emang harus diomongin. Suhendar, cucu Kang Mandala itu, saya gak tahu niatnya apa tapi dia terus ngeganggu keluarga saya."

Ki Mandala terheran, keningnya mengkerut menambah kesan tua-nya, "Sebentar, kela, yang saya denger itu dia bantu Amba pas jatuh di sungai, kenapa sekarang jadi ngeganggu, kumaha maksudnya ini teh?"

"Perkaranya bukan di sana, ada yang liat Suhendar pergi ke ladang yang saya garap dan besoknya waktu saya pangkas salah satu batang singkong hampir menjepret mata saya."

"Mungkin itu cuma kebetulan, cucu saya lewat sana dan besoknya ada kejadian."

"Bukan cuma itu, waktu Neng Dian anak Pak Didi jatuh di Batu Sungai, temennya bilang kalau Suhendar yang nyuruh buat main lompat kodok di sana dia juga ngasih uang ke anak itu biar bawa temen-temennya terutama Ria buat main di sana, dan pas Neng Dian jatuh yang dipanggil Suhendar itu Ria, seolah dia emang ngatur harus cucu saya yang celaka."

"Ah, itu mah pasti anak-anak aja yang bohong, takut disalahin jadi bawa-bawa orang dewasa biar gak dimarahin. Lagian buat apa Hendar lakuin itu, dia gak pernah ada masalah sama kalian sekeluarga. Paling cuma kebetulan pas ada musibah cucu saya yang bantuin."

"Kang, Suhendar pernah ngasih surat cinta ke Aning pas anak saya itu mau nikah sama Rahmat. Coba tanya anaknya, panggil Suhendar ke sini saya juga mau nanya langsung."

Lihat selengkapnya