Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #23

Chapter 23

Selembar daun kering terpecah ketika sepatu milik Ria menginjaknya, ia merekatkan cengkraman di kedua tali gendong tas hijaunya yang terlempar ke sana-kemari saat langkahnya semakin buas melahap jarak. Gadis itu terengah-engah saat sampai di beranda rumah. Pintu depan terbuka, aroma khas arang tercium kuat, rupanya Nini dan Mamah tengah menyetrika pakaian saat Ria masuk.

Gadis itu meletakan tasnya di sudut kamar, berganti pakaian lalu pergi ke dapur mengambil segelas air putih dari ceret yang telah menghitam. Setelah tenggorokannya yang kering dialiri air, Ia mendekati Mamah, diedarkannya pandangan ke tiap sudut, "Mah, Bapak sama Aki mana?" Tanya Ria.

"Tadi ada Wa Engkar ngasih tau kalo sawah H. Komar yang Aki garap ada yang urug, jadi mereka ke sawah buat ngebenerin." Jawab Mamah, matanya masih belum lepas dari setrikaan arang yang lalu-lalang.

"Padahal semalem hujannya kecil kok bisa sampe urug?" Dua jari mungil Ria mencengkram dagunya sendiri. Entah mengapa ia justru merasa ada yang tak beres. Harusnya setelah perbincangan kemarin hari-harinya jadi tenang tapi kenapa dia malah semakin gusar. Berpacu pada pengalaman buruk sebelumnya, gadis itu memang jadi semakin waspada dan kali ini lagi-lagi ia punya firasat tak enak, "Mah, Ni aku mau nyusul ke sawah ya." Tak menunggu jawaban ia bergegas lari.

"Riaaa, makan dulu!" Teriakan Nini teredam jarak.

Ria menyusuri pematang dengan berbagai pikiran. Saat matanya menemukan dua orang yang dicari, hatinya lega. Diperhatikannya Aki dan Bapak yang tengah mengisi karung dengan tanah. Keduanya menyadari kehadiran si gadis berambut ikal itu.

"Ria ngapain ke sini?" Bapak menatap anaknya dengan penuh tanya.

"Enggak, pengen liat aja katanya ada yang urug." Gadis itu menilik-nilik pembatas antara sungai dan sawah yang terkoyak setengahnya. "Aneh aja, semalem hujannya rintik-rintik, terus sungainya juga gak terlalu deres, kok bisa sampe kayak gini ya." Lanjutnya, ia berjongkok di dekat tanah yang longsor.

"Anak kecil tau apa sih, udah jangan ganggu Bapak sama Aki kerja."

"Tuh, duduk di saung aja." Aki menunjuk bangunan kayu beratap jerami yang biasa menjadi persinggahan mereka ketika lelah bekerja. Ia lalu memperhatikan pohon-pohon di seberang, "Mat, ini mah harus ditahan pake Awi Haur, pang neangken tah di kebun itu aja, Bapak udah izin ke H. Komar."

Lihat selengkapnya