Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #24

Chapter 24

Segulung kecil kapas yang tertempel di ujung cuttembud berubah merah saat obat luka dituangkan. Benda itu lalu mendarat di antara bared yang kemerahan di tangan lebar Pak Rahmat. Aning meniup pelan lalu membalut luka suaminya. Ria dari dapur hanya memperhatikan.

"Assalamualaikum!" Suara seorang pria menggema di rumah kecil itu.

"Waalaikumsalam." Mamah membuka pintu. Ria merangkak mendekat, bola matanya menangkap satu orang pria dewasa yang dikenalnya. Itu Pak Didi, Bapaknya Dian. Sang tamu dipersilakan duduk.

"Pak Rahmat tadi ngadangu jatuh di sawah hampir ketusuk awi, gak kenapa-napa?" Pak Didi memulai obrolan.

"Muhun, tapi alhamdulilah teu kunanaon. Ada apa ini teh Pak Didi nganjang?" Balas Bapak.

"Gini Pak, terkait yang Pak Rahmat sarankan dulu. Saya teh udah nelepon Si Efendi, katanya dia gak bisa bantu langsung tapi dia nemenin saya buat ngelapor ke Polsek. Nah, kemarin dua orang dateng namanya Pak Ilmi sama Pak Hamid. Nanya-nanya ke Dian, terus saya anter juga nanya ke temen-temennya Dian sampe ke Batu Sungai juga." Keterangan itu terhenti sejenak saat satu tangan Pak Didi meraih gelas berisi teh tawar dan meminumnya.

Wajah semua orang mendadak serius begitu juga Ria, Nini dan Mamah yang ikut menyimak di atas tikar. Mereka memperhatikan setiap tindakan tamunya.

"Jadi apa buktinya udah ada?" Tanya Bapak. Pak Didi menyimpan kembali gelasnya kemudian mengangguk ia lalu menceritakan bagaimana bukti itu bisa ia dapat.

Iptu Ilmi menganalisis tiap sudut tempat kejadian dengan mata tajamnya, berharap menemukan sesuatu. Sementara itu Bripka Hamid memfotonya dengan kamera yang sengaja dibawa. Pak Didi hanya memperhatikan di pinggiran sungai, agak jauh dari tempat yang tengah diselidiki para polisi tersebut.

Iptu Ilmi menggeleng dengan wajah kecewa, ia mendekat pada rekannya. "Ada sesuatu gak?"

"Cuma sisa tanah sawah yang di atas batu, sepertinya sebagian hilang karena hujan." Balas Bripka Hamid, telunjuknya mengarah pada salah satu batu besar.

"Batu-batu runcing yang dimaksud juga sudah terendam air dan hilang." Iptu Ilmi mengedarkan pandangannya hingga tepat terkunci pada bangunan di balik pepohonan di atas sana. Ia tersenyum.

Ketiga orang itu bergegas menuju satu-satunya rumah di tengah hamparan persawahan. Bangunan itu milik Rukmini yang tinggal sendiri untuk menikmati masa tua.

Setelah memperlihatkan id dan surat tugas para polisi itu mulai menanyai Rukmini. Perempuan tua itu justru menjawab dengan bercerita tentang kehidupannya.

Suaminya adalah pensiunan tentara yang telah meninggal, sedangkan dua anaknya sudah punya kehidupan sendiri yang laki-laki seperti ayahnya jadi tentara dan ditugaskan di pulau lain, yang perempuan kerja di Bank di kota, keduanya sudah menikah sehingga Rukmini yang merasa tidak ingin mengganggu kehidupan anaknya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan menikmati masa tuanya dengan melakukan hal-hal yang diinginkannya. Ia sengaja membuka warung bakso sederhana hanya agar ia tak kesepian sebab kalau soal biaya hidup kedua anaknya sangat menjamin. Bahkan sering mengirim barang-barang yang sedang ramai di jual di pasaran termasuk sebuah kamera.

Saat mendengar nama benda itu disebut Iptu Ilmi memotong kisah panjang Rukmini, ia bertanya, "Ibu punya kamera?"

"Muhun Pak, saya teh suka sekali foto-foto." Balas Rukmini

Lihat selengkapnya