Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #25

Chapter 25

Untuk kedua kalinya Ria menatap bangunan dua lantai bercat abu-abu, kali ini bukan hanya Bapak dan Aki tapi ada Pak Didi juga. Setelah Bapak lapor ke polsek, kasusnya ikut ditangani oleh Iptu Ilmi dan Bripka Hamid karena pelakunya sama. Mereka beranggapan kemungkinan ada keterkaitan. Setelah konfirmasi barang bukti, Iptu Ilmi mengatakan akan segera menangkap Suhendar setelah surat penangkapan turun dan itu sore ini. Mereka semua datang lebih dulu, awalnya hendak menunggu dua petugas tersebut. Tetapi Aki bersikeras ingin bertemu Ki Mandala. Ria sedikit menebak, sepertinya Aki ingin meminta penjelasan.

Mereka masih berada di luar pagar dan tengah berjalan menuju pekarangan. Ria mendengar Bapak berbisik, "Pak, pak polisinya beneran mau dateng sekarang kan?" Pak Didi membalas tak kalah pelan, "Iya Pak Rahmat, tadi habis nelepon saya katanya mereka langsung berangkat, kemungkinan masih di jalan."

Seorang laki-laki berpakaian sederhana mendekat, Ria masih ingat orang itu juga yang dulu menyambutnya saat berkunjung ke rumah ini. "Punten, aya kaperyogian naon?" Dengan sopan pria itu bertanya.

"Mau ketemu Suhendar sama Ki Mandala." Tutur Aki.

Pegawai itu buru-buru masuk, tak lama kemudian muncul lagi membuka pintu lebar-lebar, "Mangga masuk." Tangannya di arahkan ke dalam rumah. Ia membawa para tamu itu untuk duduk di kursi empuk ruang tamu.

Lagi-lagi Ria memperhatikan sekitar, kali ini lebih luas. Ada lukisan tapestri berbentuk anak kecil berambut merah. Di sudut dekat tangga dua wayang golek menempel condong di dinding, gadis itu merinding rasanya seperti hidup, dua pasang bola mata boneka kayu seolah tengah memperhatikan tiap gerak-gerak orang-orang di ruangan itu.

Pandangan Ria buru-buru berpindah ke tangga melingkar dengan pegangan kayu coklat. Tidak ada yang spesial tapi bagi gadis kecil yang sehari-harinya tinggal di rumah panggung mungil, tangga itu layaknya kemegahan yang baru baginya.

Lamunan Ria buyar saat sosok kakek bertongkat datang, pria tua itu diapit oleh anak dan menantunya yang juga merupakan Bapak dan Ibu Suhendar.

"Ada apa ini teh? Basari? Apa soal Suhendar lagi? Saya baru niat mau ke rumah abis ashar nanti bawa Hendar sama orang tuanya buat minta maaf. Sengaja nunggu anak saya pulang dari kota." Ki Mandala menghadap Ki Basari, wajahnya ramah tutur katanya lebih ramah lagi.

Wajah kusut Ki Basari ia arahkan ke lantai, pria tua itu menghela nafas lalu menatap orang di seberangnya dengan getir, "Saya kecewa sama Kang Mandala, dulu janjinya Suhendar bakal dididik tegas, tapi kemarin dia lagi-lagi mau nyelakain mantu saya si Rahmat." Suaranya datar tapi menusuk tepat di ulu hati Mandala. Bu Asih dan Pak Ruhiyat juga tersentak, wajahnya cemas juga bingung.

"Kumaha ini teh maksudnya? Si Suhendar ngelakuin apa lagi?" Tanya Ki Mandala.

"Kemarin waktu saya lagi nyari Awi Haur buat bantu Bapak benerin urug, ada yang dorong saya sampe hampir ketusuk awi." Jelas Bapak.

"Loh, terus hubungannya apa sama Suhendar?" Pak Ruhiyat mulai emosi.

"Dia yang dorong saya." Tuduh Bapak.

"Jangan asal nuduh, buktinya mana?" Nada Pak Ruhiyat makin tinggi.

Dari luar pria yang mengantar Ria sekeluarga masuk berlari dengan panik. "Juragan, juragan. Di luar ada tamu." Wajahnya masih terlihat tak tenang.

"Siapa lagi Nu?" Ki Mandala menatap resah pegawainya.

"Itu, itu, polisi juragan." Jawaban Nunu seolah menjadi buldoser yang meruntuhkan keyakinan tak bersalahnya Suhendar.

"Polisi? Kenapa ada polisi ke sini." Bu Asih meremas tangannya.

"Bawa masuk Nu." Perintah Pak Ruhiyat.

Sementara itu Ki Mandala menatap lekat Aki, matanya penuh prasangka yang tak habis pikir. "Basari, anjeun lapor polisi?"

"Itu saya, saya yang lapor." Pak Didi menjawab dengan tenang.

Pandangan Ki Mandala bergeser pada orang di sebelah Basari, "Masalahna naon sampe Pak Didi ngalapor? Apa Suhendar oge?" 

Belum sempat ada jawaban dari arah pintu dua orang berseragam masuk. "Selamat sore, kami dari kepolisian mau membawa sodara Suhendar untuk dimintai keterangan di kantor polisi." Keduanya memperlihatkan id masing-masing, lalu memperlihatkan dua lembar surat, "Ini surat tugas kami dan ini surat penangkapan Suhendar."

"Sebentar pak, atas dasar apa anak saya mau ditangkap? Naon kesalahan Si Suhendar?" Pak Ruhiyat berdiri mendekat.

"Begini pak, kami mendapat laporan kalau Suhendar itu sengaja membuat situasi kecelakaan yang menyebabkan seorang anak mengalami cidera serius. Selain itu ada laporan lain mengenai Suhendar yang merancang tempat berbahaya lalu mendorong korban sehingga hampir jatuh terpanggang di tempat itu. Setelah kami selidiki semua petunjuk memang benar mengarah padanya." Iptu Ilmi menjelaskan panjang lebar.

"Maksudnya anak saya jadi pelaku kejahatan? Buktinya mana? Saya gak terima tuduhannya kalo gak ada bukti." Sela Pak Ruhiyat.

Iptu Ilmi melirik rekannya, dari dalam map yang dipegang Bripka Hamid mengeluarkan tiga buah foto, lalu menyerahkannya pada sang atasan.

"Saya jelaskan singkat. Ini foto dari bukti hasil penyelidikan, barang aslinya ada di Polsek. Dua foto ini bukti kasus seorang anak bernama Dianti. Di foto ini terlihat jelas kalau Suhendar sedang mengotak-ngatik tempat yang menjadi TKP kecelakaan Dianti. Selain itu ada juga beberapa kesaksian yang mengatakan kalau Suhendar sengaja menyuruh anak-anak terutama Dianti untuk pergi dan bermain di sana." Polisi berperawakan tegap dan rambut pelontos itu kemudian menunjukan satu foto lainnya. "Selanjutnya ini bukti dari kasus Pak Rahmat, kalung rante emas dililit tali hitam. Barang aslinya sudah diamankan di Polsek. Kami juga sudah membongkar gulungan kainnya, ada nama Suhendar Agung, tulisan semacam rajah dan tanggal lahir."

Lihat selengkapnya