Ternyata benar Mang Hendar yang bikin keluargaku celaka, alasannya dia pengen mamah. Aku, Bapak sama Aki langsung ke rumah Ki Mandala buat minta penjelasan. Awalnya Ki Mandala bilang mau ngedidik Mang Hendar, tapi besoknya dia celakain Bapak lagi sampe hampir ketusuk awi. Terus Bapaknya Dian lapor polisi, terus dateng ke rumah bilang kalo polisi udah punya bukti foto. Bapak ternyata juga punya bukti kalo yang nyelakain itu Suhendar. Akhirnya Bapak dianter Pak Didi juga lapor polisi.
Besoknya kami ke rumah Ki Mandala lagi mau nangkep Mang Hendar tapi Mang Hendar nyumput di gudang. Aku yang nemuinnya, terus Pak Hamid sama dua polisi berantem tapi menang, Mang Hendar dibawa ke dalem rumah. Bapak sama Mang Hendar hampir berantem untungnya ditahan sama polisi. Terus polisi itu bawa Mang Hendar ke kantor polisi kata Bapak pasti bakal dipenjara, soalnya ketauan preman yang nusuk Pak Gani itu suruhan Suhendar, niatnya mau celakain Bapak. Oh ya, aku dibilang hebat sama pak polisi.
Ria menutup bait informasinya dengan tanda titik, lalu ia membentuk surat itu menjadi pesawat terbang. Setelahnya ia menyerahkan benda itu pada sang Bapak. Mereka terdiam menatap langit dan daun-daun saat angin yang menjadi pertanda datang pria bertubuh tinggi besar itu segera melemparkan pesawatnya dengan sekuat tenaga angin-angin yang berhembus lembut seolah mencengkram pesawat kertas yang melayang-layang lalu segera membawanya ke puncak langit. Bapak tercengang menyaksikannya, "Eh, beneran hiber ka langit geuning." Gumamnya penuh takjub, Ria hanya mendongak tersenyum puas.
Mereka menunggu balasan. Beberapa menit berlalu, dari ujung langit sesuatu terjun bebas ke arah mereka, Bapak sangat bersemangat ia berdiri siap menangkap. Pesawat itu mendekat dan 'pluk' mendarat tepat di pangkuan Ria. Bapak terlihat kecewa, anak gadisnya justru tertawa terbahak-bahak. Mereka kemudian membukanya.
Syukurlah, aku seneng banget. Kamu hebat Ria, akhirnya dalang dibalik kecelakaan itu dihukum juga. Aku juga udah menduga pasti alasannya itu, soalnya semua dicelakain kecuali Mamah. Terus pas udah nikah sama Mamah dia pergi bawa Mamah dan gak pernah kembali lagi ke kampung. Tapi syukur semuanya selesai. Makasih ya Ria.
Gadis dengan surai hitam itu termenung, ada yang aneh dengan suratnya. Kenapa si pengirim seolah mengalami apa yang terjadi padanya tapi dengan versi berbeda. Dia dengan rinci menulis apa yang dilakukan Mang Hendar jika ia berhasil menikahi Mamah, padahal itu kan tidak pernah terjadi. Ada apa ini sebenarnya?
Saat menengok matanya bertatapan dengan Bapak, meski tak berkata apa-apa tapi pikiran mereka seolah terhubung, sepertinya Bapak juga punya pendapat yang sama.
"Ria bisa tanyain dia siapa?" Telunjuk Bapak diketuk-ketukan di atas kertas yang dipegang Ria.