Memori Sepia dan Semilir Rahasia

Tira Riani
Chapter #27

Chapter 27

Tinta hitam menarik goresan ke sana kemari, suaranya disamarkan gesekan ranting dan daun-daun karena angin. Ria menatap lekat kertas yang hampir penuh, ia membaca kembali tulisannya.

Bapak sama Mamah udah berangkat ke kota lagi, terus beberapa hari yang lalu Ki Mandala datang buat minta maaf, awalnya Aki gak nerima tapi setelah Nini nasihatin akhirnya mereka baikan, liatnya lucu kayak Aku sama De Imay kalo lagi marahan. Oh ya, Aku bingung sama surat kamu kemarin kenapa bilang makasih ke Aku kan kamu yang nyelametin keluarga aku. Terus minggu kemarin Bapak nanya kamu sebenernya siapa kok bisa tau apa yang bakal terjadi di keluargaku.

Surat itu kemudian melayang dalam wujud pesawat, terombang-ambing angin lalu hilang dipeluk cahaya matahari yang terik. Ria menunggu dengan gugup, di pikirannya sudah banyak prasangka tentang siapa sebenarnya si pengirim.

Tak lama surat itu datang, buru-buru ia membacanya.

Syukurlah, semoga Bapak dan Mamah sehat-sehat terus dan bisa pulang lagi ketemu Ria. Soal Aki itu lucu banget, mereka emang udah seperti saudara.

Um, aku tau kamu pasti penasaran siapa aku sebenarnya. Baiklah aku kasih tau, tapi kamu jangan kaget. Sebenernya, aku adalah kamu di masa depan. Aku gak tau dari mana datangnya keajaiban ini sampai curhatan isengku bisa sampai ke diriku saat berusia 10 tahun. Tapi aku sangat bersyukur, karena surat ini hidupku yang kesepian dan sengsara bisa berubah perlahan-lahan. Makasih Ria udah berani ngubah takdir, mengatasi kemalangan, menemukan dalang yang bikin keluarga celaka dan menjaga keluarga tetap utuh serta bahagia. Dulu aku sangat menderita tapi karena kamu berani semuanya berubah, masa depan kita berubah Ria. Oh ya rahasiakan siapa aku ya Ria.

Kedua bola mata Ria hampir jatuh, ia mematung beberapa saat bahkan berkali-kali membaca lagi surat itu untuk memastikan. Berapa kalipun ia mengulang, kalimat-kalimat itu tak berubah, artinya semua nyata. Ria tersenyum haru ia lalu memandang dalam langit yang cerah dengan cahaya matahari yang menusuk. Di sudut mata Ria riak berkumpul lalu jatuh perlahan, hatinya campur aduk, ia bahagia sekaligus sedih atas informasi dari surat itu. Seandainya hidup berjalan seperti rencana Mang Hendar, ia tak bisa membayangkan berapa liter air mata yang harus berpisah dari tubuhnya, membayangkan dirinya dan orang-orang yang sangat ia sayangi harus berada dalam kesengsaraan dan kesepian, membayangkan harus kehilangan Mamah dan Bapak. Ria tak bisa lagi menahan genangan air di matanya, jalur yang sebelumnya dibentuk perlahan di pipinya kini semakin lebar, Ria menangis keras juga beberapa kali berusaha menyeka air matanya.

*****

Di atap sebuah rumah, seorang perempuan pertengahan 30-an dengan gamis putih bermanik indah tengah duduk menatap langit. Di pangkuannya sebuah buku tulis terbuka lebar, di tengahnya ada bekas robekan. Di tangannya pena hitam dipegang erat. Ia mengusap bekas air mata di pipinya, angin menghembus pelan menerpa wajahnya yang tersenyum.

"Teh Ria, hayu udah siang. Keluarga besar pasti udah nungguin di makam Nini sama Aki." Dari bawah sebuah teriakan mengagetkannya. Ia menunduk menatap si pemilik suara, ia tak perlu menebak sudah pasti itu Syara adiknya yang cerewet. Ia tak menjawab hanya tersenyum.

Bayangannya kembali pada waktu bagian-bagian hidupnya berubah. Bapak yang kembali hidup, Mamah yang masih ada di sampingnya, serta ingatan-ingatan baru yang seolah ia mengalaminya. Meskipun saat bagian itu muncul Nini dan Aki sudah beristirahat di dalam pusara, tapi ia punya kenangan lain tentang mereka, yang lebih lama dan bahagia.

Lihat selengkapnya