SABTU, 19 JULI 2014
Tidak terasa, saatnya libur panjang dan semua siswa menantikan hal ini. Lapangan upacara dipenuhi manusia yang dibentuk menjadi penerus intelektual penduduk Bumi.
"Tanggal 21 Juli sampai 5 Agustus kita akan melaksanakan libur puasa dan juga Hari Raya Idul Fitri. Masuk kembali ke sekolah pada tanggal 6 Agustus 2014."
Beberapa detik ketika pengumuman itu disebarluaskan. Terdengar reaksi para pelajar.
"Yeyeee," teriak mereka bersamaan dan suara-suara itu seperti efek domino yang terdengar di berbagai penjuru sekolah. Bersorak gembira ketika mendengar pengumuman hari libur di lapangan sekolah dengan pengeras suara.
Liburan kali ini, aku menghabiskan waktunya kemana?
Kalau dipikir-pikir, setiap liburan sekolah. Aku selalu berada di dalam kamar. Jadi, kenapa aku sibuk memikirkannya. Semua itu akan cepat berlalu.
*****
SENIN, 11 AGUSTUS 2014
Kegiatan di sekolah baru, kini berjalan setelah beberapa minggu menikmati liburan. Sekarang kami harus mengatur kelas. Merapikan jadwal, menghias kelas dan sebagainya.
Selamat pagi dunia pendidikan. Selamat datang kembali.
Kata-kata itu hanya terdengar di telinga Shania, ketika kakinya masuk ke gerbang yang masih dijaga bapak satpam itu (lagi).
Aktivitas yang rutin dilakukan setiap pagi adalah upacara. Beberapa kelompok siswa, terlihat memakai pakaian yang masih baru. Kepala Shania menoleh ke kanan lalu ke kiri. Semua teman-teman satu angkatan begitu antusias menjadi siswa/siswi sekolah ini. Ya, walaupun beberapa waktu yang lalu agak menyebalkan.
Bapak kepala sekolah berdiri di atas podium. Memberi beberapa instruksi. Kemudian, lapangan upacara kembali seperti hari berikutnya. Kosong. Lapangan itu, masih ada rumput hijau yang tumbuh. Dengan struktur tanah, agak sedikit berbukit kecil.
Lapangan ini ditinggalkan setelah ritual pagi di sekolah telah usai. Mata Shania menyapu beberapa tempat di lapangan upacara. Kemudian terhenti. Saat melihat kak Tian yang memperhatikan dia dari barisan kelasnya, lalu tersenyum. Kemudian menghilang di telan lautan manusia. Shania kembali ke dalam kelas X IPA 1. Setelah kegiatan sekolah mulai aktif. Kak Dhery jarang terlihat. Apakah dia tidak berada di Bangka lagi? "Setidaknya berpamitan lah dulu kak," batin Shania.
*****
Kami bergegas ke kelas. Mengambil baju olahraga yang berwarna biru tua. Baik cewek maupun cowok lengan bajunya panjang.
Warna biru dan ada list merah. Tulisan akronim dari nama sekolah dan outline huruf berwarna putih. Akronim tersebut menggunakan huruf kapital.
Selesai berganti pakaian olahraga, Edmund memberikan instruksi kepada kami untuk tetap berada di kelas.
Langkah kaki terdengar. Seseorang itu datang, masuk ke kelas kami dengan wajah yang menyenangkan. Langkah kakinya begitu pasti dan percaya diri. Kalau guru itu berada dalam satu tongkrongan dengan kami. Orang bakalan kesulitan membedakan. Mana guru, mana muridnya.
"Selamat pagi anak-anak." Terdengar suara menyapa. Guru itu masuk dan langsung berdiri di depan kelas. Tatapan matanya menyapu setiap orang di berbagai sudut.
"Selamat pagi pak." Kami menjawabnya serentak. Aku yang duduk paling depan, memperhatikan detail guru ini. Ekspresi wajahnya terlihat jelas, dia terlihat gugup. Setelah berdoa sebelum belajar yang di instruksi ketua kelas. Suara kembali terdengar di kelas ini.
"Perkenalkan, nama saya Nur Arifin." Kemudian menuliskan namanya di papan tulis putih, spidol itu tertutup kembali dan masih di pegang.
Dia begitu percaya diri dan juga tenang.
"Kalian nanti jangan panggil saya Pak Nur," katanya dengan nada dan ekspresi wajah yang kurang suka ketika menjelaskan panggilan tersebut.
"Pak Nur?" Aku mengernyitkan dahi. Kemudian, cuma nyengir mendengar curahan hati guru baru ku ini. Hampir seluruh masyarakat Indonesia. Menganggap bahwa nama "Nur" sebagai panggilan untuk anak perempuan. Teman ku yang satu bangku saat SMP, namanya Nur juga. Kalau nama anak laki-laki. Biasanya sebagai pelengkap saja.
"Saya nanti di panggil 'Pak Nur' lagi," gumamnya.
Aneh, hanya aku yang mendengar beliau bergumam sendirian. Siswa lainnya, entahlah. Malah asyik sendiri.
Apalagi yang berada di bangku belakang. Saat ditanya nama bapak baru ini saja, mungkin mereka bingung karena tidak tahu.
"Biasanya teman saya memanggil nama saya Arifin. Kalian panggil saya Pak Arifin. Saya lahir di Belinyu, tahun 1990. Lulusan UNSRI. Nah, sekarang. Kalian kasih pertanyaan untuk saya. Satu orang, satu pertanyaan." Kemudian memberikan perintah kepada muridnya di kelas ini.
*****
Bola matanya melihat ke berbagai arah, memperhatikan jajaran bangku sampai ke area belakang kelas. Beradaptasi dengan suasana baru.
Melihat dan memperhatikan murid yang menurutnya menarik hati. Kemudian bola mata guru baru itu berpindah lagi, menatap seseorang yang duduk di pojok tembok kelas.
Pertanyaan pertama di mulai dari bangku paling depan dekat jendela dan juga meja guru.
Guru olahraga kami, masih berdiri tegak dan terlihat santai di depan papan tulis.
Bersiap memberikan jawaban dari semua pertanyaan murid barunya. Dengan cara seperti ini, ikatan antara guru dan murid tercipta.
"Kenapa bapak memilih jurusan pendidikan olahraga?"
"Karena saya memang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan fisik dan dunia olahraga." ucap beliau dengan bangga.
"Olahraga yang paling bapak suka?"
"Sepak Bola..." jawabnya. "...Selanjutnya kamu." Guru itu menunjuk ke arah siswi yang duduk tepat berada di depannya.
"Saya Pak?" Aku masih belum yakin. Karena di sampingku masih ada Feren. Aku menoleh sebentar ke arah kiri, memastikan.
Kemana Feren pergi? beberapa detik mulutku bungkam, bingung karena sejak tadi aku hanya duduk dan mengamati tanpa berpikir pertanyaan apa yang pantas aku tanyakan kepada guru ku ini.
"Hayo, mana pertanyaanmu?" Setengah tertawa, dia tau bahwa muridnya sedang gugup.