Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #19

Memori 18 : Hoklopan

Malam minggu kali ini berbeda dari sebelumnya. Bukan masalah cuaca, langit masih ramai dengan bintang-bintang yang menemani sang rembulan.

Aku melakukan aktivitas yang biasa juga malam ini. Hanya duduk di ruang tamu sambil menonton acara TV.

Tok, tok, tok suara dari ketukan pintu terdengar. Ada yang mengetuk pintu rumah kami, awalnya ku pikir itu tamu Ayah. 

Aneh, biasanya tamu ayah ada pintu khusus di samping rumah. Tentu saja pintu itu aku buka dan terkejut bukan main setelah mengetahui tamu yang berdiri di depan ku.

“Assalamualaikum.” Seorang laki-laki menyapa dengan tersenyum melihat ku di depan pintu.

“Kak Dhery? kok tahu rumah kami, padahal di sini tempat nya padat. Ada gang-gang kecil, sempit pula.”

“Tamu baru datang ke rumah kok langsung diinterogasi, lebih baik jawab salam dulu.”

“Waalaikum salam.”

"Pintar," katanya sambil tersenyum.

Aku, rencananya ingin mencegat kak Dhery. Berusaha mengajaknya untuk berbicara di teras. Meminta penjelasan. 

"Siapa Shan?"

"Tamu Mak," jelas ku dengan wajah cemberut. Mamak langsung keluar dari dapur. Menyambut dia.

"Oh, suruh masuk aja Shan."

Tapi apa daya. Rencana itu hanya terealisasikan di kepala saja. Mamak menyuruh si biang kerok ini masuk dan mempersilahkan dia untuk duduk di kursi tamu. Kak Dhery tersenyum penuh kemenangan saat melewati ku yang masih berada di samping pintu. Duduk di hadapannya bukanlah keinginan dari ku. Hanya disuruh Mamak. Beliau tahu itu bahwa dia teman ku yang teriak macam orang gila pada saat pawai. Saat melewati gang di depan rumah kami bulan lalu. 

“Aku bawa Hoklopan. Ya, semoga saja kamu suka.” Sambil menenteng dua bungkus plastik putih.

“Hoklopan?” tanya ku. Nama makanan apa itu? aku baru pertama kali mendengar namanya.

“Tanya Mamak." Aku terkejut dan dia cuma tertawa. Sejak kapan Mamak punya anak laki-laki seusia dia? Aku juga enggan punya Abang macam dia. Pasti selalu berantem.

Dasar aneh.

Aku bergegas ke dapur sambil membawa bungkusan plastik. Lalu, Mengambil piring, menata makanan itu di atasnya. Aku mengernyitkan dahi. Ini makanan sering aku makan. Sementara itu, Mamak membuat teh manis untuk tamu yang menyebalkan di malam Minggu.

Rasa penasaran akhirnya membuatku bertanya.

“Mak, Hoklopan itu apa?”

“Nama makanan khas Bangka, Martabak Manis."

Jadi, hanya beda nama saja. 

"Wah, rasa keju. Kesukaan kamu Nak." Mamak berkata sambil tersenyum.

Aku baru menyadarinya. Tunggu, dari mana kak Dhery mengetahui makanan kesukaan ku?

Di ruang tamu, ada Ayah yang menemani dia sambil membahas banyak hal.

Jika saja Mamak tidak menyuruhku untuk mengantarkan teh manis ini kepadanya, bakalan ku tinggal tidur. Kedatangannya merusak jadwal ku.

Rencana sudah disusun, aku akan kabur tepat teh manis dan Hoklopan mendarat ke meja tamu. Lagi-lagi aku harus melihat wajahnya.

“Nak, temani Dhery ngobrol ya, Ayah ada tamu yang datang.” 

”Siapa Yah, Om Dzul?” 

”Iya, katanya pengen servis televisi dan penanak nasi otomatis.” Ayah kemudian berjalan menuju ke bengkel yang berada di samping rumah.

Kak Dhery tersenyum, kemudian melihat ku lalu tertawa.

“Kenapa tertawa, aneh kamu tuh.”

“Nggak.” Kak Dhery langsung membela diri.

Obrolan kami tak juga berlanjut dan bahkan suara nyamuk yang mengepakkan sayapnya terdengar di telinga. Mataku melirik jam dinding, biasanya aku membaca buku novel atau sekedar mengetik beberapa kata di Handphone.

Akhirnya mataku berhenti di sebuah piring yang berisi Hoklopan. Aku langsung mencomot Martabak itu. Satu potong.

"Aku yakin, kamu pasti suka." Kak Dhery langsung berkata.

Lihat selengkapnya