Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #20

Memori 19 : Tanda Perpisahan

Pertanyaannya adalah. Apakah cinta yang menciptakan pertemuan atau sebaliknya.

31 DESEMBER 2021

Basecamp tempat kami berkumpul, ramai dengan manusia-manusia. Lelaki. Perempuan. Berbaur jadi satu. Dari siang tadi, mereka sibuk menyiapkan makanan untuk acara pergantian tahun. Malam ini. Sebetulnya, aku malas untuk bergabung. Berjam-jam menatap layar laptop. Merayu otak untuk membuka memori. Sia-sia. Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Memperlihat kegelisahan. Bagaimana jika buku ini selesai, ada memori yang belum aku tuliskan?

Aku menenggelamkan wajah di atas meja. Kemudian menutupi dengan pergelangan tangan. Suara isak tangis terdengar. Aku sungguh membenci kak Dhery. Beberapa ketikan naskah di bab sebelumnya, membuat ku harus menekan perasaan itu. Agar hasilnya tidak tercampur. Kalung puzzle yang dia berikan masih aku pakai sampai sekarang.

Seseorang menyentuh bahu ku. Perlahan. Suara isak tangis itu aku hentikan.

"Shan, kau baik-baik saja kan?" Suara itu menyapa ku dengan lembut dan hati-hati. Takut mengganggu privasi ku. Seketika, langsung mengangkat kepala. Aku tidak mau orang-orang disekitar basecamp ini tau lebih banyak. Lelaki Kopi menyerahkan sesuatu. Tangannya memegang sekotak tisu, dia berada disamping ku.

"Shan, aku sudah mencari jejak orang itu. Agak susah untuk menemukan dia, media sosial bahkan tidak membantu sama sekali." Lelaki Kopi berkata, sambil menarik kursi plastik yang tidak jauh dari tempat ku duduk. Sambil menghapus air mata dengan tisu. Aku masih diam. Aku tahu, dia ingin mendengarkan jawaban itu.

"Pi," kata ku pelan. Berusaha setenang mungkin untuk berbicara.

"Bukan maksudku untuk membuatmu tambah sedih dan tertekan. Setidaknya cari tau dulu apa dan kenapa dia melakukan itu. Lalu, berbicaralah kepadanya."

Aku hanya diam.

"Shan, kamu tahu harus menemui siapa ketika meminta bantuan." Lelaki Kopi beranjak dari tempat duduknya. Kemudian pergi menemui perempuan-perempuan yang sibuk memasak. Lalu, membantu mereka.

Aku membuka Handphone. Menghubungi penulis itu. Namun, hanya bertuliskan memanggil. Aku mencoba untuk menjalin komunikasi lewat chat. Hanya tertera centang satu. Perasaan ku tidak nyaman ketika mengalami hal ini. Layar handphone berpindah. Aku membuka media sosial. Mengetik nama. Beberapa hari yang lalu. Lelaki Kopi memang mencari nama itu. Tapi, tidak ada tanda-tanda kehidupan di akun tersebut. Apalagi belum menjadi teman di akun itu. Kemudian, aku menyerah. Pasrah. Sudahlah. Toh cerita ini akan dinikmati oleh kami berlima saja. Rencana ku, hanya dicetak 15-20 buku. Terbatas. Aku tidak mau suatu hari nanti, ada sebagian orang yang hidupnya merasa terganggu karena memori ini tersebar luas.

Basecamp seperti dua sisi dalam satu paket. Menjadi tempat yang menggembirakan sekaligus menyakitkan. Aku berdiri dari tempat duduk. Berjalan ke arah mereka. Mencoba untuk membantu. Mengalihkan pikiran ku tentang dia.

Orang-orang yang tahu kisah ini, mereka dengan suka rela mencari keberadaan dia. Tapi, aku rasa. Itu berlebih. Lagi pula, mungkin saja kak Dhery sudah menikah dengan kak Chika. Perempuan yang dekat dengannya ketika masih SMA.

Aku berdiri di pojokan dapur, melamun.

Dita sedari tadi mengupas bumbu-bumbu rujak. Langsung menemui ku. Mengajak untuk bergabung. Suara minyak panas bertemu Ayam bumbu ungkep. Terdengar nyaring di telinga. Asap keluar dari kuali, mengikuti udara. Aroma harum yang dihasilkan dari rempah-rempah, perlahan masuk ke hidung. Untuk dikenali otak.

Aku membantu untuk mengiris buah-buahan. Mangga dan Pepaya muda, Jambu Air, Bengkoang, Timun, juga Nanas.

Lelaki Kopi dan teman-temannya sedang memotong Ayam. Membersihkan Cumi-cumi, Ikan dan Kepiting.

Ada juga yang sedang membuat tempat untuk membakar dan membuat arang.

Jam 17.00 WIB persiapan menyambut tahun baru kurang 5% lagi. Kami bergantian untuk mandi. Tempat ini menjadi rumah kedua. Menghabiskan sebagian besar waktu ku.

Selesai mandi, aku berbaring sebentar di kamar atas. Basecamp ini terdiri tiga lantai. Halamannya cukup luas. Dengan rumput hijau, menutupi tanah. Aku tidak mengetahui persis. Siapa pemilik basecamp ini. Dita pernah bilang, pemiliknya seorang pengusaha sawit. Basecamp ini dibangun sebagai hadiah ulang tahun untuk anak pertama mereka. Daripada tidak terpakai, akhirnya menjadi tempat berkumpul anak-anak muda. Setiap ruangan dipasang CCTV. Memantau kegiatan dan aktivitas kami. Menjadi anggota disini, ada beberapa hal yang harus dipatuhi. Kami diwajibkan untuk mengetahui beberapa aturan dan juga menandatanganinya. Pemilik dari basecamp ini ternyata Opi.

*****

Jam pertama, aku berencana untuk bolos. Tiga jam pelajaran olahraga hanya berada di dalam kelas. Pak Arifin hari ini tidak masuk. Apakah beliau sakit atau ada urusan, aku tidak tau. Sekretaris kelas bilang, beliau hanya memberikan tugas. Menurut ku, tugasnya bisa dikerjakan lain kali. Hanya membaca buku teks pelajaran Olahraga satu bab. Lalu merangkumnya. Kesempatan. Aku langsung bangkit dari tempat duduk, sementara Feren tengah sibuk membaca, sambil memberikan tanda di bukunya. Tapi, untuk keluar kelas ini, tidak semudah itu. Apalagi sekarang masih jam pelajaran dan ketua kelas kami, si rangking satu.

Langkah kaki ku berhenti di sebuah meja. Seorang laki-laki sedang membaca buku teks, wajahnya terlihat serius. Aku berdiri di sampingnya. Kebetulan dia tidak duduk di bangku dekat dinding. Teman sebangkunya menyadari kedatangan ku. Melihat ku sebentar, menoleh ke arah ketua kelas. Lalu kembali mengerjakan tugas. Ruangan kelas kami lumayan berisik. Jadi aku sedikit menaikkan volume suara.

"Ed, aku izin keluar kelas," jelas ku. Orang yang aku ajak bicara langsung menghentikan aktivitasnya. Melihat ku, lalu menarik nafas. Wajahnya tanpa ekspresi sama sekali. Kaku. Lalu dia kembali menatap buku teks dan mulai menulis di buku catatan.

"Apa keperluan kamu keluar kelas?" Edmund bertanya sambil melakukan kegiatannya.

"Ada lah," jawabku. Sambil mencari alasan yang masuk akal. Aku sadar, di depan ku. Bukan orang yang mudah percaya. Apalagi jika alasan itu masih aku rangkai di kepala.

"Aku ketua kelas di sini. Jadi aku harus tau kamu atau teman-teman yang lain mau kemana," jelas Edmund.

Sementara itu, aku masih belum bisa menemukan alasan yang tepat. Lagipula, aku tidak mau berbohong.

"Kenapa masih berdiri di sini. Duduk sana! Selesaikan tugasnya. Setelah jam pelajaran berakhir. Tugas ini harus dikumpulkan," perintah Edmund.

Kesal. Aku kembali ke tempat duduk. Feren hanya melihat ku, menyuruh ku segera membuat tugas. Setelah itu, dia kembali menulis.

10 menit berlalu, aku mengerjakan tugas itu hanya beberapa baris kalimat saja. Aku masih memikirkan perkataan Nima sebelum bel berbunyi lima menit lalu. Bagaimana caranya supaya aku bisa keluar kelas? Tiba-tiba sebuah ide muncul. Aku segera beranjak dari tempat duduk dan langsung menemui Edmund. Aku yakin, ini pasti berhasil. Apalagi dia terlihat sangat fokus.

"Ed, aku izin ke toilet ya," kata ku dengan hati-hati dan berdoa supaya tidak ketahuan kalau aku berbohong. Ketua kelas kami hanya menganggukkan kepala. Kali ini dia tidak melihat wajah ku. Matanya fokus membaca dan tangannya sibuk menulis.

Berhasil. Kesempatan ini harus digunakan selagi tidak ada yang sadar. Kelasku berada di tengah. Sebelah kanan toilet perempuan dan sebelah kiri toilet laki-laki.

Kalau ingin ke kelas di lantai dua. Tinggal berjalan melewati UKS, Laboratorium Kimia dan Kelas XII IPS lalu belok kiri, ada tangga disana.

Lihat selengkapnya