Memori Shania

Suci Adinata
Chapter #22

Memori 21 : PTA (Penerimaan Tamu Ambalan)

Hari ini, tanggal 14 Agustus 2023. Seluruh Indonesia sepakat, bahwa hari ini diperingati sebagai hari Pramuka. Begitulah kira-kira. Aku lahir di tanggal 18 Agustus. Silahkan yang mau mengucapkan selamat ulang tahun untuk ku. Bagi yang mau saja. Tidak usah pedulikan siapa aku. Anggap saja kita tidak saling kenal. Lebih menyenangkan bukan?

Setidaknya dalam memori ini, izinkan aku menyelipkan sedikit peristiwa kelahiran ku.

Kata Ayah, empat hari sebelum kelahiran ku. Mamak masih santai memakan kacang rebus. Aku tertawa mendengar cerita itu. Ayah bilang, aku kemudian lahir setelah Kakek dan Ayah pulang dari masjid selesai sholat Maghrib. Jadi pada hari itu, Ayah mengumandangkan adzan sebanyak enam kali.

Nama ku juga telah disiapkan Mamak sebelum kelahiran ku. Shania Karmila Az-Zahra. Namun ketika akta kelahiran sudah diterbitkan. Nama ku menjadi Shania Karmila. Masih kata Mamak, waktu itu Ayah hanya menulis nama ku dengan dua kata. Ayah bilang, lupa. Dulu, ketika masih kecil. Aku sering bertanya-tanya. Kenapa hanya namamu saja, yang dua kata. Saudaraku memiliki nama dengan tiga kata. Hari ini semua terjawab sudah.

*****

Opi mengajakku jalan-jalan menggunakan sepeda motor. Aku duduk di belakangnya, sesekali melihat kanan-kiri sambil menghubungkan dengan memori terakhir. Mereka berubah banyak setelah bertahun-tahun aku tinggalkan. Saat berada di lampu merah. Aku melihat anak SMA.

Seragam Pramuka yang aku lihat. Mengingatkan ku pada kejadian yang mungkin saat ini tidak akan bisa aku lupakan. Bukan memori manis. Lebih banyak hal-hal yang menyebalkan. Hanya saja, se-menyebal apapun kejadian itu. Tetap saja bisa mengukur senyum tipis di wajah.

Aku akhirnya membuka Handphone, mencatat di aplikasi Memo sebuah kata kunci yang akan aku gunakan untuk melanjutkannya. Kepalang bercerita. Beberapa potongan memori itu justru aku simpan sendiri. Membiarkannya hilang dan lenyap dimakan usia.

"Kau menemukan sesuatu, Shania?"

"Iya," jawabku.

Aku tau. Saat ini Opi penasaran. Lalu, aku merasa. Kecepatan motor berkurang perlahan.

"Shan, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Boleh?"

"Boleh, ada apa. Ngomong aja sekarang,"

"Nanti, nunggu novel mu selesai dicetak." Opi berkata sambil menaikkan kecepatan motor yang dia kuasai.

Opi memberikan tantangan sekaligus mengendalikan rasa penasaran. Dua hal yang perlu dikuasai Opi. Mungkin, sebagai teman yang baik. Hal itu dia lakukan, agar tidak ada memori dan janji yang membuat ku merasa terbebani.

Kami berakhir di pantai Pasir Padi. Setelah menemukan tempat yang cocok. Opi langsung memesan sesuatu.

Dengan senyum sumringah, dia datang membawa secangkir kopi panas, kemudian membawa buah Kelapa. Lalu, Kebab dan aneka camilan dibawa beberapa teman basecamp kami. Aroma kopi itu tercium oleh ku. Dengan cepat, Opi membawanya sejauh mungkin. Menikmatinya bersama pecinta Kopi sambil menunggu teman yang belum datang.

Sebelum obrolan tongkrongan ini menguasai. Aku inisiatif bertanya.

"Dita, kamu sudah pernah ikut PTA?"

"Belum. Emang PTA itu apa?

"Sebenarnya, waktu sekolah. Aku tidak terlalu aktif mengikuti kegiatan ekstrakurikuler Pramuka. Tapi pernah mengikuti kegiatan PTA."

"Jadi," sambung ku. Dita begitu antusias mendengarkan penjelasan ini.

"Sebelum masuk menjadi anggota Pramuka. Para siswa kelas X SMA masih berstatus sebagai Penggalang. Masa peralihan Penggalang ke Penegak disebut sebagai calon tamu. Belum menjadi tamu, belum menjadi anggota. Oleh karena itu, PTA perlu dilaksanakan untuk mengukuhkan tamu ambalan menjadi anggota ambalan."

"Banyak juga prosesnya."

Aku hanya diam. Bukan aku menjelaskan secara detail tentang kegiatan dan acara Pramuka. Tidak berhak. Ada mereka-mereka yang mengerti dan paham luar dalam tentang Pramuka. Pada bab ini, aku hanya menceritakan bagian ku. Bagian yang mungkin saja sengaja direkam oleh memori.

*****

10 SEPTEMBER 2014

Beberapa hari sebelum acara Pramuka tahun pertama dilaksanakan. Tepatnya hari Rabu. Aku menemui Nur yang berada di kelasnya. Bermaksud untuk mengajak dia untuk mengikuti kegiatan yang baru saja aku ketahui dari Dela. Jadi, saat jam istirahat. Aku memutuskan untuk menemui Nur.

Ada dua kabar yang aku dapatkan dari kakak kelas. Tapi aku hanya fokus ke salah satunya saja.

Setelah menaiki anak tangga, pertama kali mata ini mencari dia. Beberapa orang tidak duduk di tempatnya dan bahkan kosong. Aku menghampiri dia, duduk di sampingnya. Kebetulan bangku tersebut kosong.

"Nur, kamu mau ikut PTA nggak." Aku tanpa basa basi langsung mengajaknya.

"Kegiatan apa itu?" Nur bertanya, namun dia tidak peduli.

Lihat selengkapnya